MOJOKERTO, Media Pojok Nasional – Setiap Jumat pagi, ruang-ruang kelas di SMAN 1 Puri Mojokerto memiliki suasana yang berbeda. Buku Yasin terbuka di hadapan para siswa. Kepala menunduk. Bacaan ayat-ayat Al-Qur’an terdengar bersamaan. Setelah itu, istighosah dan doa bersama menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Rutinitas tersebut berlangsung di bawah kepemimpinan Sutoyo, S.Pd., M.Pd., sebagai Kepala SMAN 1 Puri. Sekolah memberi ruang bagi para siswa untuk menjalankan kegiatan keagamaan tersebut secara rutin setiap Jumat pagi. Di tengah proses pendidikan yang dipenuhi pelajaran, tugas dan berbagai aktivitas siswa, terdapat waktu khusus untuk membaca Al-Qur’an, beristighosah dan berdoa bersama.
Pemandangannya sederhana. Anak-anak duduk bersama. Membaca bersama. Berdoa bersama. Tetapi kebiasaan yang dilakukan berulang kali dapat meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada satu pagi di sekolah.
Surah Yasin merupakan surah ke-36 dalam Al-Qur’an. Kandungannya memuat antara lain tentang keimanan, kerasulan, tanda-tanda kekuasaan Allah, kehidupan dan kematian, kebangkitan serta pertanggungjawaban manusia.
Bagi para siswa, pembacaan Yasin menjadi bagian dari kegiatan keagamaan yang mereka jalani secara rutin. Setiap Jumat pagi, mereka kembali membuka lembarannya. Membaca ayat demi ayat. Mengikuti istighosah. Kemudian berdoa.
Kegiatan tersebut berlangsung ketika para siswa masih berada pada masa pembentukan diri. Mereka sedang belajar banyak hal tentang kehidupan, sekaligus membangun kebiasaan yang akan mereka bawa ketika meninggalkan bangku sekolah.
Hari ini mereka membaca Yasin bersama teman-temannya di kelas. Suatu hari mereka akan meninggalkan sekolah. Mereka akan membawa ilmu, pengalaman dan kebiasaan yang diperoleh selama menjadi siswa.
Jika kebiasaan membaca Al-Qur’an itu terus mereka lakukan setelah lulus, maka kegiatan yang berlangsung di sekolah tidak berhenti ketika mereka melewati gerbang. Ia dapat berlanjut di rumah. Di tengah keluarga. Kemudian kepada anak-anak mereka.
Begitulah sebuah kebiasaan baik dapat menemukan perjalanan yang panjang. Tidak seorang pun dapat memastikan sejauh mana sebuah kebaikan akan berkembang. Tetapi pendidikan yang membentuk kebiasaan selalu memiliki kemungkinan untuk hidup lebih lama daripada masa belajar itu sendiri.
Sutoyo memimpin sekolah yang memberikan ruang bagi kegiatan keagamaan tersebut. Kepala sekolah suatu saat dapat berganti. Siswa lulus. Guru berpindah. Tahun ajaran berganti. Namun sebuah tradisi dapat tetap hidup apabila diteruskan.
Di sinilah nilai pembinaan keagamaan menjadi bagian dari jejak pendidikan. Dalam ajaran Islam dikenal konsep amal jariyah, yakni amal yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia. Hadis Nabi menyebut tiga perkara yang pahalanya terus mengalir, di antaranya sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan.
Tentang apakah suatu amal tertentu diterima sebagai amal jariyah, penilaiannya berada pada Allah. Namun ketika seorang pemimpin pendidikan memberi ruang bagi pembiasaan membaca Al-Qur’an, istighosah dan doa, terdapat sebuah proses penanaman nilai yang manfaatnya berpotensi melampaui masa kepemimpinannya.
Bayangkan seorang siswa yang setiap Jumat membaca Yasin. Kemudian ia lulus. Ia tetap membaca. Lalu suatu hari ia mengajarkan kepada anaknya. Anaknya tumbuh. Membaca lagi. Dan kebiasaan itu terus berpindah. Generasi berganti. Bacaan tetap hidup.
Jumat berikutnya, kegiatan itu kembali berlangsung. Anak-anak kembali duduk. Yasin kembali terbuka. Istighosah kembali dilantunkan. Doa kembali dipanjatkan. Kemudian mereka kembali kepada pelajaran.
Siklus itu sederhana. Tetapi justru karena dilakukan berulang-ulang, ia menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Di balik setiap bacaan terdapat anak-anak yang sedang tumbuh. Di balik setiap doa terdapat harapan. Dan di balik kebiasaan itu terdapat proses pendidikan yang tidak berhenti pada ruang kelas akademik.
Sutoyo, sebagai kepala SMAN 1 Puri, memimpin sekolah yang memberi ruang bagi ikhtiar tersebut: membiasakan anak-anak membaca Yasin, beristighosah dan berdoa bersama setiap Jumat pagi. Kelak, ketika mereka tidak lagi mengenakan seragam sekolah, mungkin yang tersisa dari rutinitas itu bukan hanya kenangan. Bisa jadi sebuah kebiasaan telah ikut mereka pulang. Dan selama kebiasaan baik itu terus dilakukan, jejak pendidikan yang ditanamkan di masa sekolah akan terus menemukan jalannya sendiri. (Ayyubi).
