Lamongan, Media Pojok Nasional –
Sekolah tak lagi cukup menjadi ruang transfer pengetahuan. Ia dituntut melampaui itu: membentuk kesadaran, membangun karakter, dan merawat masa depan.
Senin (15/4/2026), di SMKN 1 Lamongan, arah baru itu dinyatakan secara terbuka. Cabang Dinas Pendidikan Lamongan meluncurkan dua program sekaligus, BESTIE dan FOKUS, yang secara konseptual menyasar dua krisis mendasar pendidikan hari ini: lingkungan dan kesadaran diri.
Kepala Cabdin Lamongan, Dr. Budi Sulistyo, S.Pd., M.Si., didampingi Kasi PMK Martin Nuraini, S.E., M.M., menegaskan perubahan orientasi tersebut di hadapan ratusan guru dan tenaga kependidikan. Sekolah, menurutnya, tidak boleh berhenti pada capaian akademik. Ia harus menjadi ruang yang membentuk cara hidup.
Program BESTIE, Bebaskan Ekosistem, Sapu Sampah, Tingkatkan Integritas Ekologi, tidak diposisikan sebagai kegiatan seremonial. Ia diarahkan menjadi disiplin kolektif.
Selama ini, praktik peduli lingkungan di sekolah kerap berhenti pada rutinitas tanpa makna: kerja bakti berkala, lomba kebersihan, atau program insidental yang tidak berumur panjang. BESTIE mencoba memutus pola itu.
Pendekatannya struktural. Kesadaran ekologis tidak lagi diajarkan sebagai konsep, melainkan dibiasakan sebagai perilaku. Lingkungan sekolah dijadikan ruang belajar nyata, di mana kebersihan, keteraturan, dan kepedulian menjadi refleksi integritas.
Dalam kerangka ini, ekologi bukan tema tambahan. Ia menjadi karakter.
Berbeda dengan BESTIE yang menyentuh ruang fisik, FOKUS bergerak di wilayah yang lebih dalam: kesadaran manusia.
Free, Offline, Kembali, Untuk, Sempurna, sebuah intervensi terhadap fenomena distraksi digital yang kian masif. Ketergantungan pada gawai tidak lagi sekadar kebiasaan, melainkan telah menggerus kualitas atensi, kedalaman berpikir, dan relasi sosial.
Siswa diajak mengambil jarak dari layar, hadir utuh dalam interaksi nyata, dan kembali pada pengalaman hidup yang tidak dimediasi algoritma. Dalam konteks ini, “offline” bukan penolakan kemajuan, melainkan proses pemulihan kesadaran.
Peluncuran dua program ini menandai pergeseran paradigma: dari pendidikan berbasis kurikulum menuju pendidikan berbasis peradaban.
Ada upaya menyatukan kecerdasan ekologis dan kesehatan mental dalam satu ekosistem pembelajaran. Sekolah tidak lagi berdiri sebagai institusi administratif, tetapi sebagai ruang strategis pembentuk manusia utuh.
Langkah ini juga mencerminkan respons terhadap dua tekanan global, degradasi lingkungan dan krisis kesehatan mental generasi muda, yang kini mulai terasa di level lokal.
Program sebesar BESTIE dan FOKUS menuntut lebih dari sekadar peluncuran. Ia membutuhkan konsistensi, pengawasan, dan integrasi dalam praktik harian. Tanpa itu, ia berisiko menjadi jargon.
Peran guru menjadi titik kunci. Transformasi tidak akan terjadi di ruang siswa jika tidak dimulai dari perubahan cara berpikir pendidik. (hambaAllah).
