
MADIUN, Media Pojok Nasional
Ilmu pengetahuan rupanya punya kebiasaan menarik. Ia bisa menyelinap ke dapur, bersembunyi dalam segenggam jahe, menjelma menjadi bolu mangga, bahkan mengajak kulit buah yang nyaris dibuang untuk berkenalan dengan ilmu kimia. Terdengar sederhana? Justru dari hal-hal semacam itulah pengetahuan menemukan kegunaannya dalam kehidupan manusia.
Semangat itulah yang dihadirkan SMK Negeri 3 Kota Madiun melalui program Peduli Masyarakat, sebuah gerakan berbagi pengetahuan yang mempertemukan dunia pendidikan dengan kehidupan sehari-hari warga.
Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Suharto, berbagai pelatihan digelar pada 29–30 Oktober 2026. Sekolah membuka ruang pembelajaran bagi masyarakat melalui pengolahan pangan, pengembangan keterampilan usaha, hingga penerapan prinsip fermentasi dalam pengelolaan limbah organik.
Pada Kamis (29/10/2026), anggota PKK dari RW 01 hingga RW 09 mengikuti pelatihan pembuatan ekstrak jahe instan.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada teknik mengolah rempah menjadi produk minuman praktis yang berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumahan.
Sehari kemudian, Jumat (30/10/2026), warga Kelurahan Banjarejo mengikuti pelatihan pembuatan bolu mangga. Buah yang akrab dengan kehidupan masyarakat itu diolah menjadi produk pangan bernilai tambah.
Dua kegiatan tersebut membawa pesan sederhana: keterampilan mengolah bahan yang mudah diperoleh dapat menjadi langkah awal membangun kreativitas dan kemandirian ekonomi keluarga.
Ketika Limbah Organik Bertemu Ilmu Kimia, Program ini juga menyentuh persoalan lingkungan melalui pelatihan pembuatan eco enzyme bagi warga RW 04 Kelurahan Banjarejo.
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan limbah organik, seperti sisa buah dan sayuran, melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme.
Proses ini melibatkan perubahan biokimia yang menghasilkan cairan fermentasi. Selain memperkenalkan prinsip sains terapan, kegiatan tersebut memberikan wawasan mengenai alternatif pemanfaatan limbah organik rumah tangga.
Kepala SMKN 3 Kota Madiun, Suharto, turut menyampaikan pesan mengenai kegiatan tersebut melalui unggahan status WhatsApp miliknya.
“Berbagi ilmu, menebar manfaat, dan menjaga kelestarian lingkungan!” tulis Suharto dalam unggahan yang memuat kegiatan pelatihan pembuatan eco enzyme bagi warga RW 04 Kelurahan Banjarejo.
Melalui unggahan yang sama, Suharto mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dengan memanfaatkan limbah organik.
“Bersama kita wujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan!” tulisnya.
Unggahan tersebut ditutup dengan pesan, “SMKN 3 Kota Madiun, Hadir, Berbagi, dan Menginspirasi!”
Penggunaannya tetap perlu memperhatikan keamanan dan kesesuaian fungsi, sebab cairan hasil fermentasi bukan otomatis disinfektan ataupun pengganti produk pembersih yang telah teruji.
Di sinilah pendidikan menunjukkan sisi menariknya. Kimia tidak lagi sekadar rumus di papan tulis, tetapi menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari melalui bahan-bahan di sekitar rumah.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan arah pengabdian SMKN 3 Kota Madiun dalam mendekatkan kompetensi pendidikan kejuruan kepada masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Suharto, sekolah menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi juga mendorong penerapan keterampilan dalam kehidupan nyata.
Pelatihan pengolahan jahe dan mangga membuka wawasan mengenai produk bernilai ekonomi. Sementara edukasi eco enzyme memperkenalkan hubungan antara ilmu pengetahuan, pengolahan limbah, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Ketiganya memiliki tujuan yang saling melengkapi: meningkatkan pengetahuan, memperluas keterampilan, dan mendorong masyarakat memanfaatkan potensi di sekitarnya.
Tentu, manfaat jangka panjang kegiatan semacam ini membutuhkan keberlanjutan. Keterampilan produksi perlu didukung pengetahuan keamanan pangan, pengemasan, dan pemasaran. Begitu pula pengelolaan limbah organik memerlukan praktik yang tepat agar benar-benar memberikan manfaat lingkungan.
Namun, melalui program ini, SMKN 3 Kota Madiun telah memperlihatkan bagaimana sekolah dapat menjadi tempat bertemunya pendidikan dan kebutuhan masyarakat.
Sebab, ukuran kebermanfaatan ilmu bukan semata seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, melainkan seberapa jauh pengetahuan itu mampu membantu kehidupan manusia.
Di Kota Madiun, pesan tersebut hadir melalui secangkir jahe, sepotong bolu mangga, dan proses fermentasi sederhana.
Tiga kegiatan, tiga bentuk keterampilan, dan satu semangat yang sama: pendidikan yang hadir, berbagi, dan memberi manfaat bagi masyarakat. (Ayyubi).
