KEDIRI , Media Pojok Nasional – Sejarah kadang tidak membutuhkan panggung untuk kembali diingat. Ia dapat hadir melalui percakapan sederhana, dari seorang yang pernah mengalaminya kepada generasi yang selama ini mengenalnya melalui buku dan pelajaran di sekolah.
Sekitar sepekan lalu, suasana semacam itu berlangsung di kediaman Praminto, seorang veteran pejuang kemerdekaan di wilayah Purwoasri, Kabupaten Kediri. Kepala SMA Negeri 1 Purwoasri, Sudarmaji, S.Sos., bersama jajaran pendidik dan peserta didik datang untuk bersilaturahmi sekaligus mendengarkan pengalaman sang veteran.
Pertemuan itu berlangsung dalam suasana sederhana. Para siswa duduk dan menyimak cerita Praminto tentang perjalanan hidup serta pengalaman perjuangannya. Tidak ada jarak antara materi sejarah dan manusia yang menjadi bagian dari zamannya.
Bagi peserta didik, pengalaman tersebut memberi konteks yang berbeda terhadap apa yang mereka pelajari di ruang kelas. Kemerdekaan tidak lagi semata-mata berupa tanggal yang harus diingat atau peristiwa yang tercatat dalam buku. Di hadapan mereka ada seseorang yang menjadi bagian dari generasi yang mengalami langsung masa penuh perubahan dalam perjalanan bangsa.
Kepala SMA Negeri 1 Purwoasri, Sudarmaji, S.Sos., mengatakan pertemuan dengan veteran menjadi kesempatan bagi siswa untuk melihat sejarah dari dekat sekaligus memahami tanggung jawab generasi sekarang.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga menghargai perjuangan dan meneruskannya melalui belajar, berkarya, dan berbuat baik,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, pihak sekolah menyerahkan tanda kasih kepada Praminto sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan para veteran.
Namun, makna pertemuan itu tidak berhenti pada pemberian tanda kasih. Nilai pentingnya justru terletak pada proses pendidikan yang berlangsung di dalamnya: siswa mendengarkan, mengamati, dan mencoba memahami bahwa kemerdekaan yang mereka jalani sehari-hari memiliki sejarah panjang di belakangnya.
Cara seperti ini menempatkan pendidikan sejarah dalam konteks yang lebih luas. Sekolah tidak hanya menyampaikan pengetahuan tentang masa lalu, tetapi membuka ruang bagi peserta didik untuk berinteraksi dengan pengalaman manusia yang berada di balik sebuah peristiwa sejarah.
Di titik itu pula peran pendidik menjadi penting. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan penghubung antara pengetahuan dan pengalaman. Ketika siswa diajak menemui sumber sejarah secara langsung, proses belajar memperoleh dimensi yang lebih konkret.
Bentuk perjuangan pun berubah mengikuti zaman, Generasi sebelumnya berhadapan dengan tantangan pada masanya. Generasi sekarang memiliki medan yang berbeda: pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, integritas, kreativitas, serta kemampuan menghasilkan karya yang memberi manfaat.
Karena itu, menjaga kemerdekaan tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Bagi seorang pelajar, ia dapat dimulai dari kesungguhan belajar, disiplin, menghargai sesama, menjaga persatuan, dan mempersiapkan diri agar kelak mampu mengambil peran di tengah masyarakat.
Kunjungan ke rumah veteran tersebut memperlihatkan satu hal yang sering luput dalam pembelajaran: sejarah akan lebih bermakna ketika tidak hanya dibaca, tetapi juga didengarkan dan dipahami melalui pengalaman manusia.
Rumah sederhana tempat pertemuan itu berlangsung pada akhirnya menjadi ruang belajar tanpa papan tulis. Seorang veteran menjadi sumber pengalaman. Para siswa menjadi pendengar. Dan sekolah menjadi jembatan yang mempertemukan keduanya.
Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan dari sebuah kunjungan. Sebab, kekuatan kegiatan semacam ini justru terletak pada kesederhanaannya.
Ketika generasi muda bersedia datang dan mendengarkan generasi sebelumnya, yang sebenarnya sedang dibangun bukan sekadar ingatan tentang masa lalu, melainkan kesadaran tentang masa depan.
Sebab sejarah pada akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang apa yang telah terjadi, tetapi juga tentang apa yang akan dilakukan oleh generasi setelahnya. (Ayyubi).
