Nahkoda Sekolah Juga Manusia: Dari Lampu Merah Ketujuh hingga Bandung Bondowoso

SURABAYA, Media Pojok Nasional – Ada yang mengira dunia pendidikan harus selalu tampil serius. Padahal, di balik rapat, laporan, target, evaluasi, dan sederet urusan sekolah, orang yang mengemudikan kapal pendidikan juga tetap manusia.

Sebuah rangkaian Story media sosial dari seorang nahkoda sekolah di Jawa Timur memperlihatkan sisi itu dengan cara yang sederhana: tidak menggurui, tidak menyindir siapa pun, tetapi cukup untuk membuat pembacanya tersenyum. Tiga unggahan. Tiga cerita. Dan kalau dibaca berurutan, rasanya seperti komedi kecil yang ditulis kehidupan tanpa pernah mengadakan latihan.

Cerita pertama adalah perjalanan dengan 11 destinasi. Agenda sudah disusun. Rute sudah ditempuh. Tujuan demi tujuan menunggu. Namun pada destinasi ketujuh, perjalanan harus berhenti karena lampu merah.

“Antar Kota Dalam Propinsi. Lampu Merah Ke Tujuh dari 11 destinasi 🚦.”

Pendek, tetapi lucunya justru di sana. Sebelas destinasi boleh punya jadwal. Manusia boleh punya target. Tetapi lampu merah punya aturan sendiri. Merah ya berhenti. Tidak peduli siapa yang sedang terburu-buru. Tidak peduli siapa yang punya agenda setelahnya. Lampu lalu lintas tidak pernah meminta surat tugas, tidak pernah membuka ruang negosiasi, dan tampaknya tidak tertarik pada jabatan siapa pun. Sekali merah, semua menjadi sama.

Kalau mau sedikit mengakui, mungkin lampu lalu lintas adalah “atasan” paling sederhana di jalan raya: tidak pernah rapat, tidak pernah memberi sambutan, tetapi sekali memberi instruksi, seluruh kendaraan patuh.

Dari perjalanan, Story berikutnya membawa suasana ke dunia yang lebih formal. Muncul agenda Desk Pelaporan Inovasi IGA Tahun 2026. Layar besar, forum resmi, istilah yang sangat administratif.

Lalu ada satu kalimat: “Bukan sembarang IGA.”
Benar juga. Sebab mendengar kata “iga”, pikiran manusia bisa saja mengambil jalan yang berbeda. Ada iga sapi. Ada iga bakar. Ada iga penyet. Ada IGA pendidikan. Yang satu cocok ditemani nasi dan sambal. Yang satu ditemani data dan laporan. Jadi jangan sampai salah membawa perlengkapan. Datang ke restoran, cari sambal. Datang ke forum IGA, cari dokumen. Sebab IGA pendidikan tidak bisa dimakan, tetapi bisa membuat meja kerja penuh berkas.

Lalu tibalah unggahan ketiga, yang paling sederhana sekaligus paling berbahaya. Malam hari. Waktu tidur. Tubuh sudah meminta istirahat. Tetapi pikiran ternyata belum menutup kantor.

Muncullah pertanyaan: “arep mapan turu wae ndadak kepikiran, bandung bondowoso kae asline wong bandung opo wong bondowoso, yo..”

Sudah mau tidur, mendadak terpikir: Bandung Bondowoso sebenarnya orang Bandung atau orang Bondowoso? Lalu ditutup: “Tulung jawabno ya, ben aku gak mimpi buruk.”

Inilah jenis pertanyaan yang awalnya tidak penting, tetapi setelah dibaca mendadak terasa sangat penting. Pembaca yang semula tenang bisa ikut berhenti. “Lho… iya juga.” Kemudian otak menggelar rapat. Tidak ada undangan. Tidak ada notulen. Tidak ada konsumsi. Tetapi pembahasannya serius. Bandung? Bondowoso? Nama orang? Nama tempat? Dan sejak saat itu, kantuk bisa saja mengundurkan diri tanpa surat.

Di situlah humor bekerja dengan cara yang paling menyenangkan. Tidak ada orang yang dijadikan sasaran. Tidak ada jabatan yang direndahkan. Tidak ada institusi yang disindir. Yang menjadi bahan tertawa hanyalah kejadian sehari-hari dan cara manusia memandangnya. Justru humor semacam ini yang terasa matang. Ia tidak berisik, tetapi mengena. Tidak kasar, tetapi menghibur. Tidak mengurangi wibawa, malah memperlihatkan bahwa orang yang menjalankan pekerjaan serius tetap memiliki sisi manusiawi.

Dalam kehidupan publik, humor yang sehat bahkan bisa menjadi jembatan komunikasi. Sebuah aturan bisa terasa lebih dekat ketika disampaikan tanpa ketegangan. Sebuah pekerjaan berat terasa lebih ringan ketika ada ruang untuk tersenyum. Dan sebuah percakapan bisa menjadi lebih terbuka ketika orang tidak merasa sedang berhadapan dengan suasana yang terlalu kaku.

Maka tidak berlebihan jika selera humor seorang nahkoda sekolah justru layak dilihat sebagai sesuatu yang positif. Sebab memimpin bukan berarti harus memasang wajah serius sepanjang hari. Memimpin juga berarti memahami kapan harus tegas, kapan harus mendengar, dan kapan cukup tertawa melihat kejadian sederhana.

Tiga Story itu barangkali tidak pernah dimaksudkan menjadi sesuatu yang besar. Namun justru dari situlah pesonanya. Sebuah lampu merah. Sebuah singkatan. Satu pertanyaan menjelang tidur. Tiga hal kecil yang ternyata mampu menjadi mood booster bagi siapa saja yang membacanya.

Dan mungkin ada pelajaran yang lebih besar di balik semuanya: keseriusan adalah bagian dari pekerjaan, tetapi humor adalah salah satu cara manusia menjaga dirinya tetap waras. Sebelas destinasi tetap harus diselesaikan. IGA tetap harus dilaporkan. Lampu merah tetap harus dihormati. Sedangkan Bandung Bondowoso? Untuk sementara, biarkan beliau menjadi misteri.

Sebab kalau pertanyaan itu sampai masuk rapat resmi, bisa-bisa agenda pendidikan bergeser menjadi seminar sejarah: “Bandung Bondowoso: Bandung, Bondowoso, atau memang kita yang terlalu penasaran?”

Maka, untuk hari ini, satu kesimpulan rasanya cukup: jabatan boleh membuat seseorang harus serius, tetapi selera humor membuatnya tetap manusia. Dan kalau sebuah Story sederhana mampu membuat pembacanya tersenyum sepanjang hari tanpa membuat siapa pun tersinggung, mungkin itulah bentuk komunikasi yang paling berhasil: tidak banyak bicara, tidak banyak gaya, tetapi meninggalkan senyum yang lama hilangnya. (Ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *