Story WhatsApp Kades Kepohkidul dan Cermin Hati Manusia: Sebuah Renungan dalam Cahaya Hikmah

Bojonegoro, Media Pojok Nasional – Di tengah lalu lintas informasi yang dipenuhi kabar politik, pembangunan, dan dinamika sosial, sebuah Story WhatsApp milik Kepala Desa Kepohkidul, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Samudi, S.H., justru menghadirkan ruang sunyi untuk merenung.

Unggahan itu hanya memuat satu kalimat:
“Kepada Tuhan kau merasa jauh, dan kepada manusia kau pun tak merasa dekat. Tersisalah dirimu yang makin mengecil tiap saat.”

Tidak ada penjelasan, tidak ada keterangan, dan tidak ada narasi yang menyertainya. Karena itu, pesan tersebut tidak dapat dimaknai sebagai gambaran keadaan pribadi pengunggah. Ia lebih tepat dipandang sebagai sebuah kutipan yang mengajak setiap pembaca bercermin kepada dirinya sendiri.

Apabila ditelaah melalui khazanah pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, kalimat tersebut berbicara tentang persoalan paling mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu keadaan hati.

Bagi Al-Ghazali, hati bukan sekadar tempat lahirnya perasaan. Hati adalah pusat ilmu, iman, niat, dan akhlak. Dari hati yang bersih lahir kejujuran, kasih sayang, amanah, dan ketenangan. Sebaliknya, dari hati yang tertutup lahir kesombongan, kebencian, kegelisahan, dan keterasingan.

Karena itu, ungkapan “merasa jauh kepada Tuhan” bukan menunjukkan bahwa Allah menjauh dari hamba-Nya. Dalam ajaran Islam, rahmat Allah tetap terbuka. Yang berubah adalah kemampuan hati manusia untuk merasakan kedekatan tersebut. Ketika hati dipenuhi oleh cinta dunia yang berlebihan, ambisi yang tidak terkendali, riya, dengki, atau kelalaian, maka hati menjadi seperti cermin yang tertutup debu. Cahaya tetap ada, tetapi tidak lagi terpantulkan.

Ungkapan berikutnya, “kepada manusia kau pun tak merasa dekat,” menunjukkan akibat yang lahir dari hati yang kehilangan cahaya. Menurut Al-Ghazali, hubungan manusia dengan sesama merupakan pantulan dari hubungannya dengan Allah. Orang yang hatinya hidup akan mudah berbuat baik, memaafkan, menjaga lisan, serta menghormati hak orang lain. Sebaliknya, hati yang sakit melahirkan prasangka, permusuhan, dan rasa asing, bahkan di tengah keramaian.

Lalu apa makna “dirimu yang makin mengecil tiap saat”?

Dalam pandangan Al-Ghazali, yang mengecil bukanlah kedudukan sosial, harta, ataupun kekuasaan. Yang menyusut adalah keluasan jiwa. Hati yang sempit tidak lagi mampu melihat nikmat sebagai anugerah, musibah sebagai pelajaran, atau manusia lain sebagai saudara. Ia sibuk melihat kekurangan orang lain, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Al-Ghazali mengingatkan bahwa penyakit hati tidak selalu tampak di wajah atau terdengar dalam ucapan. Ia tumbuh perlahan di dalam batin, hingga suatu hari seseorang merasa kehilangan ketenangan tanpa mengetahui penyebabnya. Pada saat itulah muhasabah menjadi kebutuhan, bukan sekadar anjuran.

Obatnya, menurut beliau, bukan pertama-tama mencari kesalahan orang lain, melainkan membersihkan diri sendiri melalui taubat, zikir, keikhlasan, ilmu yang diamalkan, dan akhlak yang diperbaiki. Sebab hati yang kembali mengingat Allah akan lebih mudah mencintai manusia, dan hati yang mampu memuliakan manusia akan semakin dekat kepada Tuhannya.

Story WhatsApp yang diunggah Samudi, S.H. pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak hanya diukur oleh keberhasilan yang tampak di mata manusia. Kemuliaan yang sejati berawal dari hati yang bersih, akal yang dipenuhi hikmah, serta amal yang dilandasi keikhlasan.

Sebab, sebagaimana diajarkan dalam khazanah tasawuf, kerugian terbesar bukanlah ketika manusia kehilangan harta atau jabatan, melainkan ketika ia kehilangan cahaya yang menerangi hatinya. Ketika cahaya itu redup, Tuhan terasa jauh, manusia terasa asing, dan jiwa perlahan kehilangan keluasannya. (Ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *