
Oleh: Bonefasius Bao, Akademisi Program Studi Ilmu Pemerintahan, USTJ | Jayapura, Papua
Media Pojok Nasional. Piala Dunia selalu menghadirkan kegembiraan yang luar biasa. Bendera negara peserta berkibar di berbagai sudut kampung, anak-anak mengenakan jersey pemain idolanya, dan masyarakat berkumpul menikmati pertandingan. Euforia ini menjadi ruang kebersamaan yang mempererat hubungan sosial di tengah berbagai perbedaan.
Sepak bola memang memiliki kekuatan unik sebagai bahasa universal. Ia mampu menyatukan orang dari latar belakang yang berbeda dalam satu semangat yang sama. Karena itu, kegembiraan masyarakat menyambut Piala Dunia adalah sesuatu yang wajar dan patut dihargai.
Namun, di balik sorak-sorai tersebut, terdapat kenyataan lain yang juga perlu diperhatikan. Banyak keluarga masih menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, dan ongkos transportasi yang terus meningkat.
Kondisi ekonomi sering kali tidak terasa seketika seperti bencana besar. Dampaknya hadir perlahan tetapi pasti, menggerus daya beli masyarakat dari waktu ke waktu. Mereka yang paling merasakan tekanan ini adalah keluarga-keluarga yang harus mengatur pengeluaran harian dengan sangat hati-hati.
Bagi sebagian besar rakyat, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya angka pertumbuhan ekonomi atau statistik resmi. Yang lebih penting adalah apakah kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi, anak-anak dapat bersekolah, dan keluarga dapat hidup dengan layak tanpa harus terlilit utang.
Dalam situasi seperti ini, kepercayaan publik kepada pemerintah menjadi faktor yang sangat penting. Kepercayaan tersebut tidak dibangun melalui pidato atau seremoni semata, melainkan melalui kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pengelolaan anggaran yang transparan serta tepat sasaran.
Demokrasi yang sehat juga menuntut partisipasi warga negara. Masyarakat tidak hanya memiliki hak untuk menikmati hiburan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk tetap memperhatikan kebijakan publik, mengawasi jalannya pemerintahan, dan menyuarakan kepentingan bersama.
Karena itu, Piala Dunia tidak perlu dipertentangkan dengan kepedulian terhadap kondisi bangsa. Masyarakat dapat tetap menikmati pertandingan, merayakan kemenangan, dan larut dalam kegembiraan tanpa kehilangan kesadaran terhadap persoalan-persoalan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, sorak-sorai Piala Dunia akan berakhir dan bendera-bendera akan kembali disimpan. Namun persoalan harga kebutuhan pokok, kualitas tata kelola pemerintahan, dan kesejahteraan rakyat akan tetap menjadi pekerjaan bersama. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu bergembira tanpa kehilangan kepedulian dan akal sehat terhadap masa depannya.
