Blora, Media Pojok Nasional. – Di tengah zaman yang kian menjauhkan manusia dari akar asal-usulnya, sebuah peristiwa kultural berlangsung hening namun sarat makna di Saung Mekarsari, Karangjati, Blora. Sabtu (2/5/2026) Dua trah besar, Singosakir–Wakinah dan Asnawi–Sumirah, bertemu dalam satu ikatan batin yang dirangkai melalui falsafah Jawa: ngumpulake balung kang pisah.
Bagi masyarakat Jawa, ungkapan ini bukan sekadar kata-kata. Ia adalah laku hidup, upaya menyatukan kembali keluarga yang tercerai oleh waktu, jarak, dan perubahan generasi. Sebuah kesadaran untuk eling lan waspada: ingat pada asal-usul, sekaligus menjaga arah masa depan.

Acara silaturahmi ini dibuka dengan sambutan dari sesepuh, Eyang Tiono (Sutiyono), yang dengan tutur tenang namun penuh bobot mengurai perjalanan trah dari generasi ke generasi. Ia menegaskan bahwa gagasan mempertemukan keluarga besar ini lahir dari generasi ketiga, fase ketika ingatan tentang garis keturunan mulai memudar.
“Yen ora dikumpulake, suwe-suwe bisa padha ora ngerti sapa sedulure dhewe,” menjadi pesan inti yang mengalir dalam sambutannya. Sebuah pengingat sederhana, namun tajam: tanpa upaya, hubungan darah bisa kehilangan makna.

Pernyataan itu diperkuat oleh Bapak Gembong Priyanto dari generasi keempat. Ia menempatkan silsilah keluarga bukan sekadar catatan nama, melainkan pijakan identitas. Dalam pandangannya, memahami asal-usul adalah cara menjaga martabat dan arah hidup, agar generasi penerus tidak tercerabut dari nilai-nilai luhur leluhur.

Suasana semakin khidmat ketika Eyang Rahayu Ningsih juga dari generasi ketiga, membacakan silsilah Trah Singosakir–Wakinah. Satu per satu nama dilafalkan dengan runtut, menghadirkan kembali jejak-jejak kehidupan yang telah mendahului. Dalam tradisi kejawen, menyebut nama leluhur adalah bentuk penghormatan tertinggi, sekaligus cara menjaga agar mereka tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Tidak ada suara gegap gempita, tidak ada suasana yang hiruk-pikuk. Yang hadir justru ketenangan yang dalam, sebuah rasa rumangsa handarbeni, bahwa setiap individu adalah bagian dari rangkaian panjang yang tidak boleh terputus.
Pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar reuni keluarga. Ia menjelma sebagai ruang pemulihan jati diri, di mana generasi muda belajar mengenali: siapa dirinya, dari mana asalnya, dan ke mana arah langkahnya.
Dalam derap zaman yang serba cepat, di mana hubungan kerap diputus oleh kesibukan dan jarak, pertemuan dua trah ini menjadi pengingat kuat: bahwa keluarga adalah akar, dan akar yang kuat akan menentukan kokohnya pohon kehidupan.
Blora hari itu bukan hanya menjadi tempat berkumpul, melainkan titik temu antara masa lalu dan masa depan. Balung yang sempat pisah, kini dirangkai kembali, utuh, menyatu, dalam satu ikatan yang tidak lekang oleh zaman: paseduluran.
Red, wj
