Surabaya, Media Pojok Nasional –
Tiga puluh tiga tahun lamanya bau darah dan daging yang disiksa itu seolah masih tercium menyengat. Jasad Marsinah mungkin telah kembali ke tanah, tapi luka di tubuhnya tak pernah kering, jeritannya tak pernah terdengar, dan kematiannya begitu kejam, biadab, dan tidak manusiawi.
Negara kini mengukir namanya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 116/TK Tahun 2025. Gelar itu disematkan indah di atas kertas. Namun siapa yang berani menatap kenyataan pahit ini?

Gelar telah diberikan, tapi dalang pembunuhnya masih bebas bernapas.
Marsinah bukan mati biasa. Ia diculik, disiksa, tubuhnya dirusak sedemikian rupa, hingga nyawanya melayang hanya karena berani membela hak sesama buruh PT Catur Putra Surya, Porong, Mei 1993. Jasadnya ditemukan di Wilangan, Nganjuk, dalam kondisi yang membuat bulu kuduk merinding, bukti nyata kekejaman yang dilakukan untuk membungkam satu suara kecil yang berani menentang.
Kasus ini pernah membuat dunia berguncang melihat betapa kejamnya tangan-tangan hitam yang beraksi. Namun anehnya, kebenaran justru dikubur dalam-dalam, ditutup rapat, seolah-olah kejadian mengerikan itu tak pernah terjadi.

Ironisnya, semua ini terjadi di negeri yang mengaku kaya raya dan selalu berpidato menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
Namun faktanya, di tengah ribuan orang berpendidikan, ratusan Wakil Rakyat di Senayan, hingga puluhan Pejabat Istana, tak satu pun yang berani bersuara lantang menuntut kebenaran.
Mereka diam. Membiarkan kejahatan terus hidup. Membiarkan pelaku tertawa di atas penderitaan seorang ibu yang dibunuh dengan cara yang begitu hina.
Melihat kebisuan yang memilukan ini, rasa malu tak sanggup lagi dibendung.
Kami malu jadi orang Indonesia. Kami malu!
Malu hidup di negara yang membiarkan kekejaman terjadi dan membiarkan pelakunya bebas.
Malu hidup di negeri di mana keadilan hanya ada di dalam pidato, tapi mati dalam realita.
Pemerintah berencana membangun Museum Marsinah. Sebuah bangunan megah.
Tapi ingatlah ini, Museum tanpa kebenaran hanyalah makam bagi keadilan.
Monumen yang megah, tapi dibangun di atas darah dan air mata yang tak pernah dibayar lunas.
Hari ini, Gelegar Hari Buruh 2026 amarah kami meledak, Buka kembali kasus ini. Selidiki sampai tuntas.
Jangan biarkan kekejaman itu menang. Jangan biarkan kebusukan itu tertutup rapat.
Marsinah baru akan tenang ketika dalang diadili, ketika wajah-wajah kejam itu terungkap, dan ketika kebenaran terucap secara terang benderang.
Ingat Marsinah. Ingat kekejamannya. Dan Ingat Pejabat Buta Tuli.
Red.
