GRESIK ,Media Pojok Nasional –
Nama besar KH Ahmad Muwafiq bakal hadir di tengah masyarakat Dusun Pandanan, Desa Pandanan, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik. Ulama yang dikenal luas dengan gaya dakwahnya yang khas dan dekat dengan berbagai lapisan masyarakat itu dijadwalkan mengisi “Pandanan Ngaji & Bersholawat”, Jumat, 18 September 2026, mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.
Kehadiran kiai yang akrab disapa Gus Muwafiq itu menjadi magnet tersendiri. Dari panggung-panggung dakwah berskala besar hingga majelis masyarakat di berbagai daerah, kali ini langkah dakwahnya sampai ke Pandanan, sebuah desa yang mungkin jauh dari gemerlap pusat kota, tetapi memiliki tradisi keagamaan dan kecintaan yang kuat kepada Nabi Muhammad SAW.
Pandanan Ngaji & Bersholawat digelar dalam rangka Sedekah Bumi dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain KH Ahmad Muwafiq, kegiatan tersebut juga menghadirkan Ust. Firman Achsani dari Sidoarjo serta dimeriahkan Hadrah Ahbaabul Qohwa Lamongan.
Di balik semarak acara, terdapat pesan yang hendak dijaga: Maulid bukan sekadar keramaian tahunan. Ia menjadi ruang untuk kembali mengingat sosok Rasulullah SAW, manusia pilihan yang membawa risalah Islam sekaligus mewariskan keteladanan tentang kasih sayang, kejujuran, kesabaran, persaudaraan dan kemuliaan akhlak.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Kecintaan kepada Rasulullah SAW menemukan salah satu bentuk pengungkapannya melalui shalawat. Allah SWT menyerukan orang-orang beriman untuk bershalawat dan menyampaikan salam penghormatan kepada Nabi, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Ahzab ayat 56. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa siapa yang bershalawat kepada beliau sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali (HR. Muslim).
Maka, ketika lantunan shalawat menggema dari Pandanan, yang hendak dihidupkan bukan semata kemeriahan sebuah perhelatan. Ada kerinduan kepada Rasulullah SAW yang ingin dipelihara, sekaligus diterjemahkan menjadi akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah pembangunan desa yang terus berjalan, masyarakat Pandanan memperlihatkan bahwa kemajuan fisik dan pembangunan spiritual tidak harus saling meninggalkan. Jalan, fasilitas dan infrastruktur dapat terus dibangun untuk memperbaiki kualitas kehidupan, sementara agama, tradisi dan nilai keislaman dirawat untuk membentuk manusia yang menghuninya.
Kepala Desa Pandanan, Suryadi, menjadi salah satu inisiator pelaksanaan kegiatan tersebut. Baginya, pembangunan desa dan kehidupan keagamaan merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan.
“Pembangunan harus terus berjalan, tetapi nilai agama dan kecintaan kepada Rasulullah SAW juga harus tetap kita jaga,” ujar Suryadi.
Pandangan tersebut sejalan dengan semangat kegiatan: membangun desa bukan hanya tentang perubahan secara fisik, tetapi juga merawat nilai yang menjadi kekuatan masyarakatnya.
Jumat malam itu, Pandanan bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah pengajian. Kehadiran KH Ahmad Muwafiq membawa majelis di sebuah desa di Gresik bersentuhan dengan salah satu figur dakwah yang dikenal secara nasional. Dari sana, pesan keagamaan diharapkan tidak berhenti di atas panggung, tetapi pulang bersama setiap jamaah dan tumbuh dalam kehidupan mereka.
Dan ketika shalawat mulai dilantunkan, Pandanan seakan hendak mengirimkan satu pesan dari pelosok Gresik: zaman boleh bergerak, desa boleh terus membangun, tetapi cinta kepada Nabi Muhammad SAW harus tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Ayyubi).
