Jangan Gegabah! Jumat Legi 11 September 2026 Punya Jam Rezeki dan Jam Naas

SURABAYA ,Media Pojok Nasional – Jumat, 11 September 2026 bertepatan dengan Jumat Legi, 28 Mulud 1960 Be, Wuku Manahil, dengan neptu 11. Dalam petungan Jawa, hari ini memiliki perhitungan khusus mengenai arah rezeki, pekerjaan, perjalanan serta waktu yang dianggap baik dan perlu diwaspadai.

Perhitungannya dimulai dengan Wiji pada pukul 09.00–11.00, dilanjutkan Cahya pada 11.00–13.00, yang secara tradisional memiliki makna relatif baik untuk membuka aktivitas. Memasuki 13.00–14.00 disebut Lara, sehingga dianjurkan lebih berhati-hati.

Momentum yang paling menarik kemudian hadir pada 14.00–16.00, yang masuk kategori Rejeki. Waktu ini secara simbolik dapat dimanfaatkan untuk mengejar peluang, berdagang, menemui relasi, melakukan wawancara, menghubungi pelanggan atau menindaklanjuti pekerjaan.

Namun, setelah pukul 16.00, petungan memasuki rentang yang perlu lebih diwaspadai. Pukul 16.00–18.00 disebut Malaikat, 18.00–20.00 Puji, dan 20.00–21.00 Pati. Rentang terakhir menjadi salah satu waktu yang paling menonjol sebagai jam naas dalam petungan Jumat Legi. Istilah Pati tetap harus dipahami sebagai kategori simbolik, bukan kepastian akan terjadi kematian atau musibah.

Bagi pekerja lapangan, termasuk jurnalis, reporter, fotografer maupun pelaku usaha, petungan ini dapat dimaknai sebagai panduan mengatur momentum: gunakan pagi hingga siang untuk membuka komunikasi dan mencari peluang, manfaatkan 14.00–16.00 untuk mengejar hasil, kemudian memasuki sore hingga malam lebih baik menyelesaikan pekerjaan yang sudah berjalan dan tidak gegabah membuka perkara baru.

Dari sisi arah, Barat disebut sebagai arah kejayaan, sementara Barat dan Utara dikaitkan dengan pekerjaan dan perdagangan. Namun, Naga Dina menunjuk Utara sebagai arah yang perlu diperhatikan. Karena itu, arah dan waktu sebaiknya ditempatkan sebagai referensi budaya, bukan penentu mutlak nasib.

Pesan Jumat Legi hari ini sederhana: tahu kapan bergerak, tahu kapan mengejar rezeki, dan tahu kapan harus menahan diri. Rezeki tetap membutuhkan ikhtiar, kerja, doa dan kecermatan.

Petungan Jawa merupakan warisan budaya dan bukan jaminan atas rezeki, kesialan maupun kejadian yang akan datang. (Ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *