Gresik, Media Pojok Nasional –
Di tengah peringatan Hari Kartini, ruang Mandhala Bhakti Praja Gresik menjadi arena pertemuan gagasan tentang perempuan, kepemimpinan, dan ketahanan keluarga. Jumat (24/4/2027) Melalui “Gebyar Kartini” yang digelar Forum Puspa Pinatih, narasi emansipasi kembali dibaca dalam konteks yang lebih aktual: perempuan sebagai subjek sosial, bukan sekadar simbol peringatan.
Kegiatan ini mempertemukan unsur organisasi perempuan dan pemerintah daerah, di antaranya Ketua Forum Puspa Pinatih dr. Riyadlotus Sholichah, Ketua TP PKK Kabupaten Gresik Hj. Nurul Haromaini Ali Fandi Ahmad Yani, serta Kepala Dinas KBPPPA dr. Titik Ernawati. Kolaborasi lintas institusi ini memperlihatkan bahwa isu perempuan kini bergerak dari ruang wacana menuju struktur kebijakan.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas KBPPPA dr. Titik Ernawati menekankan dimensi keteguhan perempuan dalam menghadapi tantangan hidup. Ia menyampaikan, “kamu tidak diciptakan hidup tanpa ujian, namun diciptakan untuk mampu seperti raden ajeng kartini, yang tidak pernah membatasi mimpinya,” sebuah penegasan tentang daya tahan sekaligus keluasan ruang mimpi perempuan dalam konteks modern.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Gresik Hj. Nurul Haromaini Ali Fandi Ahmad Yani menyoroti dimensi lain yang lebih reflektif. Ia menyampaikan, “tidak dipungkiri kalau dalam sufiisme itu perempuan itu adalah makhluk spiritual, permpuan itu mahkluk yang luar biasa kalau dalam orang Jawa itu ada nyoninya,” yang mengaitkan posisi perempuan dalam perspektif spiritualitas dan budaya lokal.
Di luar ruang sambutan, seminar nasional menjadi titik tekan utama kegiatan, membahas relasi antara kepemimpinan perempuan dan ketahanan keluarga. Diskusi berlangsung dalam kerangka yang cukup tegas: keluarga sebagai fondasi sosial tidak dapat dilepaskan dari kualitas kepemimpinan di tingkat domestik, di mana perempuan memainkan peran sentral.
Sementara itu, sesi “Kartini Got Talent” menghadirkan sisi lain dari pemberdayaan, dengan menampilkan ekspresi kreativitas dan potensi ekonomi perempuan. Namun di balik seluruh rangkaian acara, “Gebyar Kartini” di Gresik memperlihatkan satu kecenderungan yang lebih luas: pergeseran posisi perempuan dari objek kebijakan menjadi aktor yang turut membentuk arah kebijakan itu sendiri. (hambaAllah).
