Empat Rehat dan Rahasia Jiwa: Ketika Manusia Menemukan Ketenangan dengan Mengurangi

BOJONEGORO, Media Pojok Nasional – Ada nasihat yang cukup dibaca oleh mata, tetapi ada pula nasihat yang baru selesai dibaca setelah hati berubah. Story WhatsApp Kepala Desa Kepohkidul, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro, Samudi, memuat kalimat: “Ada nasihat yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali: Rehatnya tubuh dengan sedikit makan. Rehatnya jiwa dengan sedikit dosa. Rehatnya hati dengan sedikit perhatian. Rehatnya lisan dengan sedikit bicara. Dalam hidup, kita sering mencari ketenangan dengan menambah banyak hal.”

Jika pesan itu dibaca melalui cara para mufasir besar membedah makna, kata “sedikit” tidak berarti menyiksa diri atau meninggalkan dunia. Ia adalah batas. Al-Qur’an mengajarkan makan dan minum, tetapi melarang berlebih-lebihan. Maka sedikit makan adalah pendidikan bagi syahwat: tubuh diberi haknya, tetapi hawa nafsu tidak diberi takhta. Sebab manusia yang tidak mampu berkata “cukup” kepada perutnya akan lebih sulit berkata “cukup” kepada dunia.

Lebih dalam lagi ialah kalimat “rehatnya jiwa dengan sedikit dosa.” Dosa dalam perjalanan ruhani bukan hanya perbuatan yang tercatat, tetapi juga tirai yang sedikit demi sedikit menutup kejernihan hati. Sebuah kesalahan mungkin telah selesai dalam hitungan detik, tetapi bekasnya dapat tinggal lama di ruang batin. Karena itu, taubat bukan sekadar takut kepada hukuman; ia adalah usaha mengembalikan jiwa kepada keadaan ketika ia masih mampu merasa malu di hadapan Allah.

Lalu datang perkara yang paling halus: “rehatnya hati dengan sedikit perhatian.” Maknanya bukan membuang kepedulian, melainkan menghentikan hati dari menjadi budak segala sesuatu. Tidak setiap ucapan manusia harus dibawa pulang ke dalam dada. Tidak setiap kehilangan harus dibuat menjadi luka sepanjang umur. Tidak setiap keinginan pantas diberi tempat. Hati diciptakan terlalu mulia untuk dijadikan gudang bagi seluruh kegaduhan dunia.

Puncaknya berada pada lisan. “Rehatnya lisan dengan sedikit bicara.” Sebab kata adalah anak panah yang tidak dapat dipanggil kembali setelah dilepaskan. Orang berilmu belum tentu bijaksana karena banyak berbicara; kebijaksanaan justru tampak ketika seseorang mengetahui mana yang harus disampaikan, mana yang harus ditahan, dan mana yang cukup diserahkan kepada Allah. Diam pada tempatnya bukan kelemahan, tetapi kemenangan akal atas ego.

Dari empat nasihat itu tampak satu hukum batin yang amat dalam: manusia sering mencari damai dengan menambah, sementara ketenangan justru datang ketika ia berani mengurangi. Kurangi kerakusan, tubuh menjadi ringan. Kurangi dosa, jiwa menjadi bening. Kurangi kegelisahan, hati menjadi luas. Kurangi perkataan yang sia-sia, lisan memperoleh kehormatan.

Dan mungkin di situlah rahasia yang tidak selesai diterangkan oleh akal semata: manusia tidak menjadi kaya karena berhasil memenuhi hatinya dengan dunia, tetapi ketika hatinya begitu penuh oleh Tuhan sehingga dunia tidak lagi mempunyai ruang untuk memperbudaknya. (Ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *