Gresik, Media Pojok Nasional –
Dalam konstruksi peradaban yang berkelanjutan, pendidikan tidak pernah berdiri semata sebagai institusi pengajaran, melainkan sebagai ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan, nilai moral, dan kearifan sosial. Dalam kerangka itulah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik, Eko Agus Suwandi, melakukan silaturahmi ke kediaman KH. Mulyadi, seorang ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Ihsan Menganti dan Pondok Pesantren Al-Azhar Menganti, pada Rabu (11/3).
Pertemuan yang berlangsung di kawasan Menganti, Gresik, tersebut bukan sekadar agenda kunjungan formal. Ia menjadi sebuah peristiwa sosial yang merepresentasikan dialog antara dua tradisi keilmuan yang selama ini membentuk wajah pendidikan Indonesia: pendidikan formal berbasis kebijakan negara dan pendidikan pesantren yang bertumpu pada tradisi keilmuan keagamaan yang telah berakar panjang dalam sejarah Nusantara.
Kunjungan itu dihadiri sejumlah unsur strategis dalam ekosistem pendidikan, antara lain jajaran pengawas SMA, pimpinan sekolah menengah, Ketua MKKS SMK Gresik, serta perwakilan pendidikan agama dari Kementerian Agama Republik Indonesia tingkat kabupaten. Kehadiran lintas institusi tersebut mencerminkan suatu kesadaran kolektif bahwa pembangunan pendidikan yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi antara sistem pendidikan negara dan kekuatan sosial-keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Dalam dialog yang berlangsung hangat dan penuh penghormatan, Eko Agus Suwandi menegaskan bahwa kepemimpinan dalam bidang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari dimensi moral dan spiritual. Baginya, pengelolaan pendidikan bukan hanya persoalan administratif dan manajerial, melainkan juga sebuah amanah peradaban yang menuntut keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedewasaan karakter.
“Kami datang untuk bersilaturahmi sekaligus memohon doa dan restu. Amanah dalam dunia pendidikan pada hakikatnya adalah tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa generasi muda tidak hanya tumbuh sebagai individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam nilai dan akhlak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa identitas sosial Gresik sebagai kota santri sekaligus kawasan industri menempatkan pendidikan pada posisi strategis dalam menjaga keseimbangan antara modernitas dan nilai-nilai moral masyarakat. Dalam perspektif tersebut, kolaborasi antara sekolah dan pesantren bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan struktural dalam membangun manusia yang utuh.
“Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, tetapi tetap berakar pada nilai moral. Tanpa fondasi akhlak yang kuat, kemajuan ilmu pengetahuan justru berisiko kehilangan arah,” tegasnya.
Sementara itu, KH. Mulyadi menyambut kunjungan tersebut dengan penuh kehangatan. Sebagai tokoh ulama yang telah lama berkecimpung dalam dunia dakwah dan pendidikan pesantren, ia memandang pertemuan ini sebagai langkah penting dalam memperkuat komunikasi antara pemerintah dan komunitas keagamaan.
Menurutnya, pembangunan pendidikan yang kuat selalu bertumpu pada hubungan harmonis antara lembaga formal dan otoritas moral masyarakat.
“Saya merasa bangga dan bahagia atas kehadiran para pimpinan pendidikan. Silaturahmi seperti ini memiliki nilai yang sangat penting, karena pendidikan bukan hanya tentang kurikulum dan fasilitas, tetapi juga tentang nilai, teladan, dan keberkahan doa,” ungkapnya.
Bagi KH. Mulyadi, pendidikan yang berkelanjutan adalah pendidikan yang mampu menanamkan ilmu sekaligus membangun karakter. Ilmu pengetahuan tanpa akhlak akan kehilangan orientasi, sementara moral tanpa ilmu akan kehilangan daya transformasi.
Pertemuan yang berlangsung sederhana di tengah suasana Ramadhan itu mungkin tidak diiringi seremoni besar. Namun dalam perspektif yang lebih luas, ia mencerminkan sebuah prinsip fundamental dalam pembangunan peradaban: bahwa masa depan bangsa selalu dibangun melalui dialog antara ilmu, nilai, dan kebijaksanaan.
Selama ketiganya terus berjalan beriringan, pendidikan tidak hanya akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki integritas, tanggung jawab sosial, dan kesadaran moral dalam menghadapi perubahan zaman. (hambaAllah).
