Lamongan, Media Pojok Nasional –
Peluit panjang segera menggema, dan denyut futsal terasa kian kencang. Kacabdin Cup 3 di Kabupaten Lamongan bukan sekadar turnamen, ini panggung adu taktik, stamina, dan harga diri antar insan pendidikan, GTK SMA/SMK/PK-LK. Selama dua hari, 29–30 April 2026, para pendidik menanggalkan rutinitas kelas dan beralih ke lapangan, memperlihatkan sisi lain: kompetitif, solid, dan penuh semangat.
Di bawah koordinasi Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Lamongan, ajang ini dikemas dalam format gugur yang menuntut kesiapan penuh. Cepat, dinamis, dan tanpa ruang kompromi, satu kesalahan bisa mengakhiri langkah. Namun lebih dari itu, setiap pertandingan menjadi ruang pembelajaran tentang disiplin, kerja sama, dan sportivitas.
Sorotan mengarah pada Dr. Budi Sulistyo, yang menegaskan bahwa olahraga adalah bagian dari pendidikan karakter. “Bertandinglah dengan semangat, junjung tinggi sportivitas, dan jaga kebersamaan,” ucapnya.
“Menang itu penting, tapi memberi teladan jauh lebih berarti. Tunjukkan bahwa guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi lewat sportivitas dan kebersamaan.” tambahnya menjadi pesan yang terasa hidup di setiap laga.
Drawing Grup 1, tempo tinggi sejak awal
- SMK IDUTIN Nasihin Kaliteng vs SMKN 2 Lamongan
- MKKS SMAS vs SMAN 1 Ngimbang
- SMAN 1 Karangbinangun vs SMKN 1 Lamongan
- SMKN 1 Sarirejo vs SMAN 1 Mantup
- SMAN 1 Babat vs SMKN 1 Paciran
- SMAN 2 Lamongan vs SMK Muh 8 Paciran
Laga-laga awal ini diprediksi langsung menghadirkan ritme cepat. Kerja sama tim, komunikasi antarpemain, dan ketepatan mengambil keputusan menjadi kunci, cerminan nilai-nilai yang juga hidup dalam dunia pendidikan.
Drawing Grup 2, jalur terjal menuju puncak
- Cabdin vs PKLK
- SMAN 1 Bluluk vs SMK NU Al Hidayah Ngimbang
- SMAN 3 Lamongan vs SMAN 1 Sukodadi
- SMKN Maritim vs SMA Muh 2 Paciran
- SMK Muh 5 Babat vs SMA Muh 1 Babat
- SMK Muh 9 Sedayu vs SMAN 1 Sekaran
Di jalur ini, pertandingan menuntut kedewasaan bermain. Disiplin bertahan, ketenangan, dan kecerdasan membaca permainan menjadi penentu, nilai-nilai yang selaras dengan karakter seorang pendidik.
Kacabdin Cup 3 bukan sekadar mencari juara. Ia menjadi ruang silaturahmi, mempererat hubungan antar sekolah, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di antara para insan pendidikan. Di lapangan, mereka bertanding sengit. Di luar lapangan, mereka tetap satu: penggerak dunia pendidikan.
Pertanyaannya kini: siapa yang mampu menjaga konsistensi, mengelola tekanan, dan melangkah hingga partai puncak?
Jawabannya akan lahir dari semangat, kerja sama, dan keteladanan, nilai yang tak hanya diajarkan di kelas, tetapi juga ditunjukkan nyata di lapangan (hambaAllah)
