Sajen Jemuwah Legi: Sepiring Pecel, Simbol Syukur dan Laku Batin Orang Jawa

JAWA TIMUR , Media Pojok Nasional – “Sajen Jemuwah Legi.” Caption singkat itu menjadi menarik ketika disandingkan dengan foto sepiring nasi, sayuran pecel, sambal kacang, lauk, rempeyek, dan daun pisang. Bagi mata biasa, itu sekadar makanan. Dalam pembacaan Kejawen, susunan tersebut dapat dilihat sebagai simbol hubungan manusia dengan rezeki, alam, sesama, dan Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Pecel memiliki daya simbolik yang kuat. Beragam sayuran, masing-masing tumbuh dengan bentuk dan sifat berbeda, dipertemukan oleh sambal kacang hingga menjadi satu rasa. Secara filosofis, ia dapat dibaca sebagai gambaran kerukunan: berbeda asal, berbeda bentuk, tetapi dapat menyatu tanpa kehilangan jati diri.

Kacang dan sayuran juga mengingatkan pada sumber pangan yang berasal dari bumi. Nasi menjadi lambang kebutuhan pokok dan penghidupan, sementara rempeyek sebagai pelengkap dapat dibaca secara kultural sebagai gambaran kebersamaan dan persatuan dalam sejumlah tradisi Jawa. Makna tersebut merupakan tafsir budaya, bukan satu ketentuan tunggal dalam seluruh Primbon Jawa.

Daun pisang memperkuat kesan prasaja, kesederhanaan. Tidak diperlukan wadah mewah untuk menyampaikan rasa syukur. Dalam pandangan Jawa, yang utama bukan kemegahan bentuk, melainkan rasa yang menyertai laku.

Menariknya, caption itu menyebut “Jemuwah Legi”. Jumat, 11 September 2026 memang bertepatan dengan Jumat Legi, 28 Mulud 1960, neptu 11, dan berada dalam Wuku Manahil. Dalam keterangan ahli penanggalan Jawa yang dikutip, Jumat Legi pada Wuku Manahil dipandang sebagai hari yang baik untuk berbagai pekerjaan.

Dalam salah satu petungan waktu untuk hari ini, terdapat pembagian:
09.00–11.00 — Wiji: tenteram, damai, gembira.
11.00–13.00 — Cahya: terang dan baik untuk mencapai tujuan.
13.00–14.00 — Lara: secara petungan disarankan dihindari.
14.00–16.00 — Rejeki: dikaitkan dengan keuntungan dan hasil.

Maka, bila istilah “jam naas” digunakan, ia sebaiknya dipahami sebagai istilah dalam petungan tradisional, bukan kepastian bahwa seseorang akan mengalami kesialan. Begitu pula “jam baik” adalah tafsir budaya, bukan jaminan masa depan.

Wuku Manahil sendiri mempunyai simbol-simbol khas. Dalam salah satu sumber penanggalan Jawa, sesaji Wuku Manahil antara lain disebut berupa nasi liwet dengan ayam dan ikan, sayuran bermacam-macam serta sambal gepeng. Wuku ini juga disebut baik untuk mencari obat, membuat bendungan, dan menyelesaikan pertengkaran, tetapi kurang baik untuk beberapa keperluan tertentu.

Di sinilah caption “Sajen Jemuwah Legi” menjadi lebih dari sekadar keterangan foto.

Ia seperti sebuah eling: bahwa nasi berasal dari bumi, sayuran berasal dari tanaman, sambal menyatukan keberagaman, makanan menjadi rezeki, dan rezeki pada akhirnya patut disyukuri.

Dalam nuansa religius Jawa, Jumat membawa suasana ibadah dan doa; Legi membawa penanda tradisi Jawa; sedangkan makanan yang dibagikan atau dinikmati bersama mengingatkan pada sedekah, kerukunan, dan rasa syukur.

Sepiring pecel itu sederhana. Tetapi ketika dibaca melalui kacamata Jawa, kesederhanaan tersebut justru menyimpan pesan yang dalam:

urip iku aja mung golek wareg, nanging kudu ngerti saka ngendi rezeki teka, banjur eling marang Sing Paring.

Hidup bukan sekadar mencari kenyang, tetapi memahami dari mana rezeki datang, lalu mengingat kepada Yang Memberi. (Ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *