INDONESIA , MEDIA POJOK NASIONAL – Ada pola lama dalam mencari rezeki yang masih banyak dilakukan: berangkat sebelum subuh, menempuh perjalanan jauh, bekerja sampai malam, bahkan menginap berhari-hari. Seolah-olah semakin jauh perjalanan dan semakin lelah tubuh, semakin besar pula hasil yang akan diperoleh.
Padahal, dunia sudah berubah. Teknologi telah melipat jarak dan waktu. Handphone diciptakan bukan sekadar untuk berbicara, tetapi untuk membuat komunikasi tidak lagi bergantung pada jarak.
Seorang jurnalis, misalnya, tidak selalu harus berangkat ke luar kota hanya untuk memperoleh keterangan seorang narasumber. Wawancara dapat dilakukan melalui telepon, video call, pesan elektronik, atau berbagai platform komunikasi. Data dapat dikirim dalam hitungan detik. Dokumen dapat diterima tanpa harus menghabiskan satu hari di perjalanan.
Jika teknologi sudah memungkinkan pekerjaan dilakukan lebih cepat dan efisien, tetapi kita masih memaksakan tubuh berangkat subuh, menempuh ratusan kilometer, menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang sebenarnya dapat dilakukan dari jarak jauh, maka persoalannya bukan lagi kerja keras.
Persoalannya adalah cara berpikir, Zaman dahulu, keterbatasan teknologi memang memaksa manusia bergerak secara fisik. Hari ini situasinya berbeda. Dunia bergerak melalui ilmu, teknologi, keterampilan, jaringan, informasi, dan kemampuan membaca peluang.
Di sinilah gagasan tentang energi, frekuensi, dan vibrasi menjadi menarik. Dalam perspektif spiritual, semesta diyakini tidak menghitung berapa kilometer kita berjalan atau berapa jam tubuh kita bekerja. Semesta menangkap energi dan vibrasi yang kita pancarkan. Semakin selaras diri seseorang, semakin terbuka ruang bagi peluang untuk hadir.
Secara ilmiah, tentu belum ada bukti bahwa vibrasi tertentu dapat secara otomatis menarik uang dari alam semesta. Namun kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa kondisi diri sangat menentukan cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan membangun kepercayaan.
Ketenangan membuat pikiran lebih jernih. Ilmu membuat keputusan lebih tajam. Skill membuat pekerjaan lebih bernilai. Jaringan memperluas kemungkinan. Teknologi memperpendek jarak.
Maka duduk di rumah atau di sebuah kafe bukan berarti tidak bekerja. Seorang jurnalis yang duduk dengan handphone di tangan, membaca data, menghubungi narasumber, melakukan wawancara, menyusun informasi, dan menulis berita bisa menghasilkan pekerjaan jauh lebih banyak daripada orang yang seharian menghabiskan waktu di jalan.
Tubuh tidak harus selalu bergerak untuk membuat sesuatu bergerak.
Newton dapat menjadi metafora tentang gerak dan tenaga. Tesla dapat menjadi pintu untuk memahami energi dan vibrasi. Di zaman sekarang, keduanya perlu dilengkapi dengan satu kekuatan baru: teknologi.
Karena itu, kerja keras tetap penting, tetapi kerja keras tidak boleh berubah menjadi kebiasaan menyiksa tubuh. Jangan pergi jauh hanya karena merasa rezeki harus dikejar secara fisik. Gunakan teknologi untuk melipat waktu, gunakan ilmu untuk meningkatkan nilai, gunakan jaringan untuk memperluas peluang, dan gunakan ketenangan untuk menjaga arah.
Sebab rezeki tidak selalu berada di tempat yang jauh, Kadang peluang sudah berada di genggaman tangan, tinggal bagaimana kita memiliki ilmu, energi, keterampilan, dan kecerdasan untuk menangkapnya. (Ayyubi).
