Bangkalan, Media Pojok Nasional — Malam di ruas Jalan Arosbaya menuju Bancaran, Bangkalan, Sabtu (2/5/2026), semula berjalan seperti biasa. Kendaraan melintas pelan di bawah lampu jalan yang temaram. Namun sekitar pukul 23.00 WIB, suasana mendadak berubah mencekam. Aspal mendadak licin, kendaraan oleng, dan satu per satu pengendara mulai kehilangan kendali.
Tidak sedikit yang mengira jalan basah diguyur hujan. Namun malam itu bukan air yang membasahi jalan. Bau menyengat yang tercium dari badan aspal justru mengarah pada satu hal: solar.
Ditengah gelap malam, ceceran solar membentang di ruas jalan Arosbaya. Permukaan aspal berubah seperti jebakan. Ban kendaraan kehilangan traksi, pengendara panik, dan kecelakaan pun tak terhindarkan.
Tiga korban sejauh ini tercatat telah melapor ke Polres Bangkalan. Satu kendaraan roda empat dan dua kendaraan roda dua dilaporkan menjadi korban dari jalan licin yang diduga dipicu tumpahan solar tersebut. Di balik angka itu, ada warga yang pulang dalam cemas, ada pengendara yang terjatuh di jalan, dan ada keluarga yang malam itu menunggu dengan khawatir di rumah.
Satlantas Polres Bangkalan yang tengah berpatroli malam menjadi pihak pertama yang mendapati kondisi janggal di ruas jalan itu. Bukan sekadar jalan licin, petugas menemukan jejak solar memanjang di badan jalan sebuah tanda yang kemudian mengarah pada kendaraan pengangkut.
Kasatlantas Polres Bangkalan, AKP Febry Hermawan S.Tr.K., S.I.K., M.H., M.I.K., mengatakan, patroli malam itu berubah menjadi penelusuran ketika laporan masyarakat mulai masuk dan anggota mendapati jalan yang membahayakan.
“Anggota kami saat patroli mendapati adanya tumpahan solar di jalan raya, tepatnya di Arosbaya menuju Bancaran. Dari situ langsung kami lakukan penelusuran,” ujar AKP Febry.
Penelusuran itu membawa petugas pada satu unit truk diesel pelat AG yang terparkir di kawasan DAM. Dari luar, kendaraan itu tampak seperti truk biasa. Tak ada yang mencolok. Namun saat diperiksa, petugas menemukan sesuatu yang tak biasa di dalam bak truk.
Sebuah tangki berukuran besar tersimpan di dalamnya. Kapasitasnya diperkirakan mencapai lima ton. Di dalam tangki itulah diduga solar diangkut. Sebagian muatan disebut telah berceceran, bahkan sebagian diduga sudah dibuang. “Kalau mobil truknya standar, namun di dalamnya ada tangki. Tangki sekitar lima ton, dan di dalamnya diisi solar,” jelas AKP Febry.
Dua orang yang berada di kendaraan itu sopir dan kernet—langsung diamankan bersama truk beserta muatannya ke Polres Bangkalan. Dari sana, penanganan perkara dilimpahkan ke Satreskrim untuk pendalaman lebih lanjut.
Bagi warga yang melintas malam itu, peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Jalan yang seharusnya menjadi ruang aman untuk pulang berubah menjadi ancaman yang datang tanpa tanda. Tak ada hujan, tak ada banjir, hanya jalan licin yang membuat orang-orang terjatuh sebelum sempat memahami apa yang terjadi.
Kini, dugaan tak berhenti pada soal kecelakaan. Polisi masih menelusuri asal solar yang diduga dibawa dari Pamekasan, melintasi Bangkalan, lalu hendak dibawa keluar daerah, diduga menuju Surabaya. Dugaan distribusi BBM ilegal pun mulai mengemuka.
Namun bagi para korban, malam itu bukan sekadar soal dugaan pelanggaran distribusi BBM. Malam itu adalah tentang jalan yang mendadak berbahaya, perjalanan pulang yang berubah jadi musibah, dan pertanyaan sederhana yang tersisa: mengapa keselamatan pengguna jalan harus dipertaruhkan oleh tumpahan solar di tengah malam?
Polres Bangkalan kini masih membuka laporan bagi warga yang merasa dirugikan akibat kejadian tersebut. Satu per satu korban diminta datang, didata, lalu diproses.
Sebab di balik jejak solar yang mengilap di aspal malam itu, ada tanggung jawab yang harus dijelaskan.
