GRESIK, Media Pojok Nasional — Minggu pagi di Perum BPH RW 07, Desa Sirnoboyo, Kecamatan Benjeng, mendadak terasa berbeda. Halaman yang biasanya menjadi ruang aktivitas warga berubah menjadi panggung kecil yang penuh energi. Musik mengalun, tubuh bergerak serempak, dan 12 peserta Lomba Senam Kreasi tampil membawa satu pesan: kemerdekaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dirayakan dengan karya.
Kegiatan yang digelar Tim Penggerak PKK RW 07 dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Minggu (23/8/2026), itu menghadirkan suasana yang jauh dari kesan seremoni. Senam menjadi bahasa yang sederhana, tetapi pesannya kuat: sehat, berani tampil, kreatif, dan tetap bersama.
Gerakan demi gerakan mengalir mengikuti irama. Sesekali sorak warga pecah mengiringi penampilan peserta. Di tengah keringat dan senyum, perlombaan tidak lagi sekadar soal siapa yang menjadi juara. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang dipertontonkan, keberanian warga untuk keluar dari rutinitas dan merayakan kemerdekaan dengan cara mereka sendiri.
Tema “Ayo Bergerak Raih Potensi Terbaikmu; Ukir Prestasi untuk Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur” pun menemukan bentuk nyatanya di lapangan. Bukan sekadar rangkaian kata di atas spanduk, melainkan terlihat dalam setiap peserta yang berani melangkah, bergerak, dan menunjukkan potensi terbaiknya.
Ketua PKK RW 07, Titis Rudianto AMK beserta Tim juri penilai lomba dari RT 30 bapak Trijanto,RT 27 bapak Riski, RT 32 Siswantoro, serta Tim Pertimvangan Hasil Lomba, Bu Retno Agus, Ninik Santoso, Bu Rosila Djafar , hadir di tengah kegiatan. Kehadirannya memberi warna tersendiri. Ia menyaksikan langsung penampilan peserta, memberikan dukungan, sekaligus memastikan kegiatan berjalan dalam suasana yang meriah dan penuh kebersamaan.
Dua belas peserta datang dengan kemampuan dan gaya berbeda. Namun ketika musik dimainkan, perbedaan itu melebur menjadi satu irama. Di situlah kekuatan kegiatan tersebut terlihat: kompetisi tidak menghilangkan persaudaraan, sementara keinginan meraih prestasi tidak menghapus kegembiraan bersama.
Barangkali inilah wajah kemerdekaan yang paling dekat dengan kehidupan warga. Tidak selalu berbentuk peristiwa besar atau panggung megah. Kadang ia hadir di sebuah halaman sederhana, melalui musik yang mengalun, tubuh yang bergerak, dan warga yang memilih berkumpul daripada berjalan sendiri-sendiri.
Saat musik akhirnya berhenti, tepuk tangan menjadi penutup. Tetapi semangatnya belum selesai.
Dari RW 07 Sirnoboyo, sebuah pesan sederhana justru terasa kuat: bangsa yang besar tidak hanya dibangun dari pusat-pusat kekuasaan, tetapi juga dari lingkungan kecil tempat warganya mau bergerak, sehat, berkarya, dan menjaga kebersamaan.
Dan pagi itu, Sirnoboyo membuktikannya, kemerdekaan benar-benar terasa ketika rakyat ikut bergerak.
Red.
