BANGKALAN, Media Pojok Nasional – Setiap memasuki bulan Agustus, suasana masyarakat Indonesia seakan memiliki warna tersendiri. Bendera Merah Putih berkibar di berbagai sudut lingkungan, kegiatan masyarakat semakin semarak, dan berbagai perlombaan khas Agustusan kembali digelar untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, di balik riuhnya sorak-sorai, tawa dan hadiah perlombaan, sesungguhnya terdapat pesan yang jauh lebih penting. Lomba Agustusan bukan sekadar permainan untuk mencari siapa yang paling cepat, paling kuat atau paling unggul, melainkan ruang sosial untuk kembali mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Hal tersebut disampaikan Syaiful Anam S.Pd, Ketua Perkumpulan Jurnalis Bangkalan (Pejalan) Jawa Timur, yang menilai tradisi perlombaan dalam perayaan kemerdekaan memiliki nilai sosial dan kebangsaan yang patut terus dipertahankan.
Menurut Anam, berbagai jenis lomba seperti tarik tambang, panjat pinang, balap karung, bakiak, makan kerupuk, hingga berbagai kreasi permainan lainnya mempunyai pesan tersendiri.
“Kalau kita melihat lebih dalam, lomba Agustusan bukan hanya tentang menang dan kalah. Ada kebersamaan, kekompakan, sportivitas, kegembiraan dan semangat untuk saling mendukung. Nilai-nilai itulah yang sebenarnya menjadi bagian penting dari semangat kemerdekaan,” ujar Anam.
Ia menilai, masyarakat saat ini hidup dalam dinamika yang semakin kompleks. Kesibukan pekerjaan, perkembangan teknologi dan media sosial terkadang membuat interaksi sosial secara langsung semakin berkurang.
Karena itu, momentum Agustusan menurutnya menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali ruang perjumpaan antarmasyarakat.
“Anak-anak bertemu anak-anak, orang tua bertemu orang tua, pemuda bertemu masyarakat. Semua melebur dalam satu suasana. Tidak melihat siapa yang kaya, siapa yang miskin, siapa pejabat dan siapa masyarakat biasa. Ketika lomba dimulai, semua memiliki posisi yang sama sebagai warga yang sedang merayakan kemerdekaan,” katanya.
Anam menegaskan, jangan sampai masyarakat hanya melihat lomba Agustusan dari sisi kemeriahannya saja. Tarik tambang, misalnya, mengajarkan bahwa kekuatan individu tidak akan cukup tanpa kekompakan. Bakiak mengajarkan pentingnya berjalan dalam irama yang sama. Panjat pinang memperlihatkan bahwa sebuah tujuan terkadang hanya dapat dicapai melalui strategi, kerja sama dan kesediaan untuk saling membantu.
Sementara balap karung mengajarkan keberanian untuk bangkit ketika terjatuh, sedangkan lomba makan kerupuk dapat dimaknai sebagai gambaran kesabaran dan perjuangan menghadapi keterbatasan.
Makna tersebut sejalan dengan berbagai kajian mengenai tradisi lomba 17 Agustus yang menempatkannya sebagai media untuk menanamkan semangat juang, kerja sama, nasionalisme dan gotong royong.
“Jangan hanya melihat siapa yang mendapatkan hadiah. Yang lebih penting adalah bagaimana setelah lomba itu masyarakat menjadi semakin dekat, semakin akrab dan semakin kuat rasa persaudaraannya,” tutur Anam.
Menurut Anam, salah satu nilai yang paling penting dari tradisi Agustusan adalah gotong royong. Sebab, kemerdekaan Indonesia juga tidak lahir dari perjuangan satu orang. Kemerdekaan merupakan hasil perjuangan panjang yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang berbeda.
Karena itu, semangat gotong royong yang terlihat dalam lomba-lomba Agustusan semestinya tidak berhenti ketika acara selesai.
“Jangan sampai gotong royong hanya muncul ketika memasang umbul-umbul, membuat panggung atau mengadakan lomba. Setelah Agustus selesai, semangat itu juga harus tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari,” kata Anam.
Ia berharap nilai kebersamaan yang muncul selama perayaan HUT Kemerdekaan dapat diteruskan dalam berbagai kegiatan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, membantu warga yang membutuhkan, menjaga keamanan lingkungan serta membangun komunikasi yang sehat di tengah masyarakat.
Lebih jauh, Anam juga mengingatkan bahwa perlombaan harus menjadi ruang pendidikan sportivitas.
Menurutnya, kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah perlombaan. Kemampuan menerima kekalahan dengan lapang dada dan menghargai kemenangan orang lain justru menjadi bagian penting dari pendidikan karakter.
“Kalau menang jangan sombong, kalau kalah jangan marah. Itulah sportivitas. Dalam kehidupan juga begitu. Tidak selamanya kita berada di atas dan tidak selamanya kita berada di bawah,” ujarnya.
Pesan tersebut, lanjut Anam, sangat relevan bagi generasi muda. Perlombaan yang sederhana sekalipun dapat menjadi sarana pembelajaran mengenai kerja sama, disiplin, tanggung jawab, keberanian dan kemampuan menghargai orang lain.
Anam berpandangan, semakin meriah perayaan HUT Kemerdekaan tentu semakin baik, sepanjang masyarakat tidak kehilangan esensi dari peringatan tersebut.
Menurutnya, kemeriahan bukan sekadar persoalan banyaknya panggung, hadiah maupun jenis perlombaan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh kegiatan tersebut mampu menghadirkan rasa persaudaraan dan kepedulian sosial.
“Merayakan kemerdekaan itu bukan hanya mengenang tanggal 17 Agustus. Kita juga harus bertanya kepada diri sendiri, apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini,” tegasnya.
Ia berharap perayaan HUT Kemerdekaan ke-81 tahun 2026 dapat menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat persatuan.
Di tengah perbedaan pilihan, pendapat, latar belakang sosial dan kepentingan, masyarakat tetap membutuhkan ruang bersama yang mampu mempertemukan semua pihak dalam suasana yang cair dan penuh kegembiraan.
“Lomba Agustusan boleh sederhana, hadiahnya boleh tidak seberapa, tetapi nilai kebersamaannya jangan sampai hilang. Sebab yang paling mahal dari sebuah perayaan kemerdekaan bukan hadiahnya, melainkan rasa persaudaraan yang tumbuh setelah kita berkumpul bersama,” pungkas Anam.
Pada akhirnya, lomba Agustusan mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tarik tambang selesai dalam hitungan detik, balap karung berakhir setelah peserta mencapai garis finis, dan panjat pinang selesai ketika hadiah berhasil diraih.
Tetapi pesan yang dibawanya seharusnya berlangsung jauh lebih lama.
Kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan sorak-sorai, tetapi juga dengan menjaga persatuan. Tidak hanya dengan perlombaan, tetapi dengan membangun kebersamaan. Dan tidak hanya dengan mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi dengan meneruskan semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka!
