Indonesia, Media Pojok Nasional –
Sebuah uraian yang menyatukan pondasi ilmu fikih yang teguh, kedalaman hikmah dan batin, serta cahaya petunjuk dari warisan Nabi ﷺ disusun menurut pandangan para Imam Penuntun, semoga Allah meridhoi mereka.
Dari Samudi, Kepala Desa Kepohkidul, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro — semoga Allah memberkahi langkahnya, mengokohkan ilmunya, menetapkan kebenaran di hatinya, dan mengangkat derajatnya di sisi-Nya — terucap kata-kata yang menjadi cermin bening bagi hati yang mau merenung, nasihat yang menembus selubung kelalaian, dan pengingat yang menyadarkan jiwa:
“Ketahuilah dengan sepenuh kesadaran dan kebenaran batin: sekuat apa pun pagar tembok yang kau bangun, setinggi apa pun benteng yang kau dirikan, sekuat apa pun pula pintu dan gembok yang kau pasang demi rasa aman dan perlindungan diri, sesungguhnya itu hanyalah pertahanan yang lemah, terbatas, dan tak berdaya menghadap kehendak Yang Maha Mengatur. Namun jauh lebih kokoh, jauh lebih kuat, jauh lebih tak tergoyahkan oleh gempuran bencana maupun serangan penyakit, adalah pagar mangkok: yaitu kasih sayang yang tulus, pemeliharaan yang penuh perhatian, dan pemenuhan hak-hak anak yatim sepenuhnya. Janganlah engkau sekali-kali mengabaikan, menelantarkan, apalagi menzalimi mereka yang kehilangan sandaran dan penyangga di dunia ini. Ketahuilah dengan yakin: bisa jadi satu doa yang keluar dari bibir murni salah satu dari mereka, itulah yang menjadi sebab utama engkau, keluarga, dan tempat tinggalmu dijauhkan dari segala bahaya, musibah, dan bencana yang tak terduga.”
Dengan landasan ilmu syariat yang teguh dan kaidah yang kokoh, sebagaimana jalan dan pemikiran Imam Syafi’i, rahmatullah ‘alaih:
Sesungguhnya perintah memuliakan, memelihara, menjaga, dan tidak menzalimi anak yatim adalah pokok yang tegas, asas yang kokoh, dan kewajiban yang terperinci dalam syariat Allah, tertanam kuat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ.
Dalam pandangan ilmu ushul fikih dan kaidah hukum yang lurus, menjaga hak mereka, menunaikan nafkah yang layak, mengelola harta mereka dengan amanah dan bijaksana, serta menjaga kehormatan dan perasaan mereka, adalah bukti ketaatan yang murni, tanda kebenaran iman, dan wujud pelaksanaan perintah Ilahi yang paling dicintai.
Sekuat apa pun ikhtiar lahiriah yang kita bangun, laksana pagar tembok yang tinggi dan kokoh, itu hanyalah sarana yang diperbolehkan dan dianjurkan sebagai bentuk usaha, namun tidak boleh dijadikan sandaran hati, penaruh harapan, atau kepercayaan mutlak, sebab segala kekuatan, benteng, dan perlindungan makhluk tetaplah lemah dan terbatas, tak berdaya sedikit pun jika kehendak Allah Yang Maha Agung datang.
Sedangkan memenuhi hak yatim, memelihara mereka dengan kasih sayang, dan menjaga hati mereka adalah amal yang paling mulia, paling tinggi kedudukannya, dan paling kuat ikatannya; amal yang menjadikan hubungan hamba dengan Tuhannya semakin erat, semakin kuat, dan semakin dekat. Di sanalah terletak dasar perlindungan yang sejati, kekal, dan tak tergoyahkan.
Dengan kedalaman hikmah, kehalusan makna, dan cahaya batin makrifat, sebagaimana pandangan dan penjelasan Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam, rahmatullah ‘alaih:
Renungkanlah, wahai saudara yang hatinya masih berdenyut dan peka terhadap kebenaran, makna tersembunyi dan hakikat agung yang terkandung di balik ungkapan yang begitu indah itu.
Pagar tembok melambangkan segala ketergantungan manusia pada kekuatan materi, harta benda, kedudukan dan kekuasaan, senjata dan pertahanan, serta segala apa yang dibangun dan diusahakan oleh tangan sendiri, semuanya itu sesungguhnya rapuh, lemah, dan tak berdaya; semuanya itu hanyalah bayang-bayang keamanan semu dan ketenangan palsu, sebab segala sesuatu di langit dan bumi, setiap kekuatan dan pertahanan, tunduk dan takluk sepenuhnya di bawah kuasa serta kehendak Yang Maha Mengatur, Yang Maha Memiliki, dan Yang Maha Mengatur segala urusan.
Adapun pagar mangkok, betapa indah dan betapa dalamnya makna istilah ini! Ia adalah benteng yang tidak terlihat oleh mata lahiriah, namun kokoh tegak lurus hingga ke langit, kuat menembus segala lapisan alam, dan tak bisa ditembus oleh apa pun. Ia terjalin dan dibangun bukan dari batu, besi, atau semen, melainkan dari kasih sayang yang tulus ikhlas, kelembutan hati yang mendalam, rasa belas kasih yang menyentuh sanubari, dan usaha sungguh-sungguh memelihara hamba Allah yang lemah, terlantar, dan kehilangan sandaran.
Ketika tanganmu menjadi penyangga dan penopang bagi mereka yang tak bersandar selain kepada Allah, ketika hatimu menjadi tempat berteduh dan ketenangan bagi mereka yang kesepian dan terluka, ketika engkau menghapus air mata yang jatuh perlahan dari pipi kecil itu, mendekapnya dengan rasa hormat dan kasih layaknya anak kandung sendiri, memenuhi kebutuhan mereka dengan penuh rasa tanggung jawab, maka sesungguhnya engkau telah menjadi perpanjangan kasih sayang, rahmat, dan pemeliharaan Allah di muka bumi ini.
Dan barangsiapa yang menjadi tempat berlindung, penolong, dan penyangga hamba-Nya yang lemah dengan tulus, maka Allah-lah Yang Maha Agung akan menjadi pelindungnya, penolongnya, dan penyangganya dengan perlindungan, pertolongan, dan pemeliharaan yang paling kokoh, paling kuat, paling luas, dan tak tertembus oleh bala, musibah, maupun penyakit apa pun selamanya.
Hati anak yatim itu bersih laksana cermin yang belum tergores debu dunia, suci dari noda kepentingan, dendam, dan keburukan, jernih laksana embun pagi yang belum terjamah kotoran; kedudukannya di sisi Allah sangat mulia dan istimewa. Maka doanya pun terbang naik lurus ke langit tanpa hijab, tanpa penghalang, laksana cahaya terang yang menghalangi segala gelapnya musibah, segala bala, dan segala bahaya yang ditakdirkan turun ke bumi.
Dengan cahaya petunjuk yang terang, landasan dalil yang sahih, dan penjelasan yang mendalam terhadap warisan Nabi ﷺ, sebagaimana penjelasan dan pemahaman Ibnu Hajar Al-AsqalaniAl, rahmatullah ‘alaih:
Sesungguhnya kedudukan istimewa anak yatim, kemuliaan memelihara mereka, serta keutamaan dan kedudukan doa orang yang terzalimi, telah ditegaskan dengan tegas, jelas, dan pasti dalam sabda Rasulullah ﷺ yang suci dan terjaga:
“Doa orang yang terzalimi, tidak ada hijab yang menghalanginya di atasnya, tidak ada pintu yang menutupinya, Allah akan mengangkatnya di atas awan-awan, dan berfirman: ‘Demi keperkasaan-Ku, pasti Aku akan menolongmu, walau sesudah beberapa waktu.’”
Dan sabda beliau ﷺ pula yang menyentuh sanubari, menggugah hati, dan menjadi kabar gembira yang tak terhingga nilainya:
“Orang yang memelihara anak yatim, baik dari kalangan kerabatnya maupun dari orang lain, maka ia dan aku berada di surga seperti ini, lalu beliau menyatukan dua jari telunjuknya yang mulia.”
Ini adalah bukti yang paling tegas, paling kuat, dan paling tak terbantahkan: bahwa memelihara, menghibur, menjaga, dan tidak mengabaikan anak yatim adalah jalan yang paling terang, paling mulia, dan paling dicintai Allah, yang didukung sepenuhnya oleh petunjuk wahyu dan tuntunan sunnah yang suci. Perlindungan, keberkahan, dan keselamatan yang datang dari jalan ini bukanlah dugaan semata, bukan pula harapan kosong, melainkan janji yang pasti, hak yang terjamin, dan rahmat yang tertanam kuat dalam firman Allah serta sabda Nabi-Nya yang mulia.
Demikianlah kebenaran agung yang menyatukan segala ilmu, menghimpun cahaya dari segala penjuru pengetahuan agama: bahwa perlindungan terkuat, keamanan paling kokoh, dan pertahanan yang tak tergoyahkan bukanlah yang dibangun, disusun, atau diusahakan oleh tangan manusia untuk dirinya sendiri, melainkan yang lahir dari ketaatan yang teguh pada syariat Allah, dihayati dengan kedalaman batin dan kesadaran makrifat yang menyentuh hati, serta didasari petunjuk yang terang dan dalil yang sahih dari nubuat Rasulullah ﷺ.
Samudi, pemimpin yang berilmu dan berhati luhur itu, telah mengingatkan kita semua dengan kata-kata yang begitu dalam dan penuh hikmah: janganlah biarkan mereka yang lemah, yang kecil, dan yang kehilangan sandaran merasa sendirian, terlantar, dan terluka di dunia ini. Janganlah biarkan air mata mereka jatuh sia-sia, janganlah biarkan hati mereka merasa hampa dan tak berteduh. Sebab setiap tetes air mata bahagia dan ketenangan yang jatuh dari mata mereka karena kasih sayang, perhatian, dan pemeliharaanmu, adalah kunci yang paling mulia, yang membuka pintu-pintu rahmat, perlindungan, ampunan, dan keberkahan langit yang tak akan pernah tertutup selamanya.
Semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat, menjadi cahaya penuntun hati, dan menambah pengetahuan serta kasih sayang kita kepada sesama makhluk-Nya. (Ayyubi).
