Jumat Pagi di SMKN 1 Geger: Ketika Sekolah Memberi Ruang bagi Siswa untuk Mendekat kepada Allah

MADIUN, Media Pojok Nasional – Setiap Jumat pagi, halaman SMK Negeri 1 Geger, Madiun, memiliki suasana yang berbeda. Aktivitas belajar belum dimulai. Para siswa justru duduk bersama dalam suasana tenang untuk mengikuti JUMANJI (Jumat Sholawat dan Mengaji).

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap Jumat sebagai bagian dari agenda Jumat Berkarakter di SMKN 1 Geger. Pada Jumat, 7 Agustus 2026, seluruh warga sekolah kembali berkumpul di lapangan. Kegiatan pagi diawali dengan istighotsah dan doa bersama. Para siswa mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat.

Pemandangannya sederhana. Ribuan anak, dalam satu halaman, duduk bersama. Mereka mengikuti doa dan rangkaian kegiatan keagamaan sebelum kembali ke ruang kelas. Namun, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dapat meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada satu pagi di sekolah.

Di tengah pendidikan yang dipenuhi pelajaran, tugas, ujian dan berbagai aktivitas, SMKN 1 Geger memberi ruang bagi siswa untuk berhenti sejenak. Mengingat Allah. Menenangkan pikiran. Kemudian kembali belajar. Setelah JUMANJI selesai, para siswa kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Di sinilah pendidikan karakter menemukan bentuknya yang sederhana. Anak-anak itu suatu hari akan lulus. Mereka akan meninggalkan seragam, ruang kelas dan halaman sekolah. Mereka akan membawa ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menjadi siswa. Tetapi ada hal lain yang dapat ikut mereka bawa: kebiasaan.

Jika kebiasaan bersholawat, mengaji, beristighotsah dan berdoa terus tumbuh dalam diri mereka, maka kegiatan Jumat pagi tidak harus berakhir ketika mereka meninggalkan sekolah. Ia dapat berlanjut di rumah. Di tengah keluarga. Bahkan kepada generasi berikutnya.

Dalam tradisi Islam, terdapat nilai tentang amal yang manfaatnya terus mengalir. Hadis Nabi Muhammad SAW menyebut tiga perkara yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, di antaranya sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan. Tentu, soal diterima atau tidaknya sebuah amal merupakan hak Allah. Manusia hanya dapat berikhtiar.

Namun, ketika sebuah sekolah membangun kebiasaan baik melalui pendidikan, ada nilai yang mungkin bertahan jauh lebih lama daripada masa kepemimpinan seseorang. Clara Akhustya, S.Pd., Kepala SMKN 1 Geger, memimpin sekolah yang memberikan ruang bagi pembiasaan spiritual tersebut.

Kepala sekolah dapat berganti. Guru dapat berpindah. Siswa akan lulus. Tahun ajaran akan berganti. Tetapi tradisi yang baik dapat tetap hidup jika terus dilanjutkan. Jumat berikutnya, mereka akan kembali berkumpul. Sholawat kembali dilantunkan. Istighotsah kembali dipanjatkan. Doa kembali dinaikkan. Setelah itu, mereka kembali ke kelas. Belajar.

Sebab pendidikan bukan hanya tentang membuat seorang anak menguasai ilmu pengetahuan. Pendidikan juga tentang membentuk kebiasaan, karakter dan kesadaran bahwa di tengah perjalanan mencari ilmu, manusia tetap memiliki tempat untuk mengingat Tuhannya. Di SMKN 1 Geger, ruang itu hadir setiap Jumat pagi. (Ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *