Prihatin Nasib Korban Tokoh Wrga Geger Tanggapi Kasus Dugaan Pencabulan Oleh Lora di Galis

Bangkalan, Media Pojok Nasional – Beredarnya video di media sosial TikTok yang menyebut kasus dugaan pencabulan santriwati di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Galis sebagai bentuk “salah paham” bahkan “fitnah”, memicu keprihatinan sejumlah pihak. Salah satunya datang dari Soleh Abdi Jaya, warga Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan.

Dalam keterangannya, Soleh menyampaikan rasa sedih dan kecewa atas munculnya konten yang dianggap telah memutarbalikkan fakta serta melukai perasaan korban dan keluarga. Apalagi, dalam video tersebut disebutkan bahwa korban diklaim telah dinikahi secara siri oleh oknum pelaku tanpa sepengetahuan orang tua, yang seolah ingin membenarkan tindakan asusila yang dilakukan.

“Apapun alasannya, mencabuli santriwati itu tidak bisa dibenarkan, baik menurut agama maupun etika. Terlebih korbannya masih di bawah umur. Ini bukan fitnah dan bukan fiksi, tapi kejadian nyata yang sudah dilaporkan secara resmi. Kebetulan saya juga ikut mendampingi keluarga korban,” tegas Soleh.

Menurutnya, seorang lora atau tokoh agama seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat, bukan justru melakukan tindakan yang mencederai kehormatan dan kepercayaan publik. Dalih pernikahan siri tanpa restu keluarga korban, apalagi terhadap anak di bawah umur, dinilai sebagai bentuk pelanggaran moral serius yang tidak dapat ditoleransi.

Soleh juga mengingatkan para pengguna media sosial agar lebih berhati-hati dalam membuat komentar maupun konten. Ia menilai, pernyataan yang tidak berdasarkan fakta justru berpotensi melukai psikologis korban serta memperpanjang penderitaan keluarga.

“Kalau memang menganggap ini fitnah, silakan tempuh jalur hukum dengan melaporkan pencemaran nama baik. Jangan malah membuat konten atau komentar yang menyakitkan para korban,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyayangkan minimnya suara dari tokoh agama, mahasiswa, dan tokoh pemuda di Bangkalan dalam menyikapi persoalan tersebut. Padahal, kata dia, masyarakat kecil sangat membutuhkan dukungan moral ketika menghadapi kasus asusila yang menyangkut kehormatan dan masa depan anak-anak mereka.

Ia juga menambahkan, kasus di Galis bukanlah satu-satunya peristiwa serupa yang terjadi di Bangkalan. Berdasarkan realita sosial yang ia ketahui, praktik hubungan dengan dalih nikah siri tanpa restu orang tua, bahkan yang berujung tanpa tanggung jawab, telah beberapa kali terjadi di wilayah berbeda.

“Banyak perempuan kehilangan masa depan dan kehormatannya. Ini realita pahit yang tidak bisa kita tutupi,” ungkap Soleh.

Soleh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpihak pada kebenaran dan menempatkan empati kepada korban sebagai prioritas utama. Ia mengingatkan bahwa para orang tua telah menitipkan anak-anaknya ke pesantren dengan harapan mendapatkan pendidikan agama dan akhlak, bahkan turut berkontribusi membantu pondok baik tenaga maupun harta.

“Silakan membela siapa pun yang Anda hormati, tapi jangan sampai hati buta sehingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh pembelaan, melainkan oleh perbuatan dan tanggung jawabnya,” tutup Soleh.

Kasus dugaan pencabulan di Kecamatan Galis hingga kini masih dalam sorotan publik. Masyarakat berharap aparat penegak hukum dapat mengusut perkara tersebut secara tuntas, transparan, dan adil demi kepastian hukum serta perlindungan terhadap para korban.
(Anam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *