GRESIK , Media Pojok Nasional – Di tengah ruang digital yang dipenuhi perdebatan, pencitraan, dan perlombaan mencari perhatian, sebuah unggahan sederhana dari Kepala Desa Bulurejo, Kecamatan Benjeng, Imam Shofwan, yang akrab disapa Lurah Iwan, mengajak publik berhenti sejenak untuk melihat sesuatu yang lebih mendasar: keluarga.
Melalui sebuah story media sosial, ia membagikan pesan yang mengingatkan agar kakak dan adik tidak membiarkan harta, jarak, ataupun kesibukan merenggangkan hubungan darah. Pesan itu sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang dihadapi banyak keluarga saat ini.
Tidak ada statistik dalam unggahan tersebut. Tidak ada slogan politik. Hanya sebuah pengingat bahwa saudara bukanlah lawan untuk dibandingkan pengorbanannya, melainkan orang pertama yang seharusnya hadir ketika kehidupan menjadi sulit.
Di banyak keluarga, hubungan tidak selalu retak karena kebencian. Lebih sering, ia memudar oleh kesibukan yang dibiarkan menjadi kebiasaan. Telepon yang tidak pernah diangkat. Kunjungan yang terus ditunda. Percakapan yang semakin singkat. Hingga suatu hari, orang-orang yang dahulu tumbuh di bawah atap yang sama berubah menjadi asing.
Bagian paling kuat dari pesan itu adalah kalimat yang mengingatkan bahwa ketika ayah dan ibu telah tiada, saudara kandung akan menjadi tempat terakhir untuk kembali mengenang rumah, masa kecil, dan kasih sayang yang pernah membentuk kehidupan.
Pesan itu layak direnungkan. Sebab jabatan memiliki masa akhir. Kekayaan dapat berpindah tangan. Kesuksesan bisa berubah seiring waktu. Namun, kenangan tentang keluarga hanya bertahan jika hubungan itu tetap dipelihara.
Unggahan Lurah Iwan tidak menawarkan solusi atas seluruh persoalan keluarga. Tetapi ia mengangkat satu nilai yang sering terlupakan di tengah kehidupan modern: bahwa perhatian, empati, dan kesediaan untuk saling memahami jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam setiap perselisihan.
Barangkali, inspirasi terbesar dari unggahan itu bukan terletak pada siapa yang membagikannya, melainkan pada pertanyaan yang ditinggalkannya kepada setiap pembaca.
Sudahkah kita menghubungi kakak atau adik hari ini?
Karena pada akhirnya, kehidupan mengajarkan satu kenyataan yang tak dapat dihindari: ketika banyak hal berubah, keluarga yang tetap saling menjaga akan selalu menjadi tempat pulang yang sesungguhnya. (Ayyubi).
