Adi Buana Colour Fun Run 2026: Ketika Kota Bergerak Mengikuti Irama Kebersamaan

Surabaya, Media Pojok Nasional – Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika halaman Atrium Cito Mall mulai dipenuhi orang-orang yang datang dengan tujuan yang sama. Sebagian membawa botol minum, sebagian lagi sibuk merapikan nomor dada yang terpasang di kaus berwarna cerah. Di antara mereka ada mahasiswa, alumni, dosen, keluarga, hingga masyarakat umum. Tidak banyak percakapan yang panjang. Senyum, sapaan singkat, dan langkah yang mengarah ke titik registrasi telah cukup menjelaskan bahwa pagi itu merupakan bagian dari sebuah perayaan.

Sabtu, 18 Juli 2026, Universitas  Adi Buana Surabaya memperingati Dies Natalis ke-55 melalui Adi Buana Colour Fun Run 2026 dengan mengusung tema “Melaju dalam Harmoni”. Tema itu tidak berhenti sebagai slogan di atas panggung. Ia perlahan menemukan bentuknya ketika peserta mulai berdatangan sejak pukul 05.30 untuk melakukan pendaftaran ulang.

Menjelang pukul 06.00, kerumunan semakin rapat. Pembawa acara memberikan pengarahan terakhir sebelum musik mengisi udara pagi. Lima belas menit kemudian, instruktur dari FlashFit memimpin sesi pemanasan. Gerakan-gerakan sederhana dilakukan serempak. Tidak ada yang benar-benar memikirkan kecepatan. Yang terlihat justru kesediaan banyak orang untuk memulai hari dengan irama yang sama.

Pada pukul 06.25, Ketua Badan Penyelenggara secara resmi melepas peserta. Lima menit berselang, ribuan langkah mulai bergerak menyusuri Frontage Road Ahmad Yani di depan Bank Mandiri. Jalur sepanjang 5,5 kilometer itu berubah menjadi ruang terbuka tempat orang-orang berlari, berjoging, atau berjalan cepat sesuai kemampuan masing-masing.

Tidak ada persaingan menuju garis depan. Tidak ada sorak kemenangan yang membelah udara. Yang terdengar adalah percakapan ringan, tawa yang muncul tanpa direncanakan, dan sesekali letupan kegembiraan ketika serbuk warna beterbangan, menempel pada pakaian, wajah, bahkan rambut peserta. Di bawah pengawasan panitia dan marshall yang berjaga di sepanjang lintasan, perjalanan berlangsung aman sekaligus hangat, seolah setiap warna yang dilemparkan menjadi penanda bahwa perbedaan dapat hadir tanpa menghilangkan kebersamaan.

Peserta diberi waktu hingga dua jam untuk mencapai garis finis. Batas waktu itu tidak pernah terasa sebagai tekanan. Justru memberi ruang bagi setiap orang menikmati perjalanan menurut ritmenya sendiri.

Sekitar pukul 08.30, peserta kembali memenuhi Atrium Cito Mall. Wajah-wajah yang sebelumnya bersih kini dipenuhi semburat merah, kuning, biru, dan hijau. Namun yang paling mudah dikenali bukanlah warna-warna itu, melainkan ekspresi lega dan bahagia setelah menuntaskan lintasan.

Pukul 08.45, suasana kembali hidup melalui sesi pendinginan dan Zumba bersama instruktur FlashFit. Setelah tubuh kembali rileks, perhatian peserta beralih ke panggung utama. Pada pukul 09.15, Rektor Universitas Adi Buana Surabaya sekaligus Ketua Badan Penyelenggara menyampaikan sambutan yang menegaskan bahwa usia ke-55 bukan sekadar penanda perjalanan sebuah institusi pendidikan, melainkan hasil dari kebersamaan yang dibangun lintas generasi.

Perayaan berlanjut mulai pukul 09.30 melalui penampilan Putri Renata, Pamoo, serta alunan musik Satiga Electone. Di sela-sela pertunjukan, panitia membagikan berbagai hadiah hiburan kepada peserta. Tepuk tangan dan sorak kegembiraan silih berganti mengiringi setiap nama yang dipanggil.

Menjelang pukul 11.30, acara ditutup. Keramaian perlahan berubah menjadi arus orang yang meninggalkan lokasi dengan langkah lebih santai daripada saat mereka datang.

Setiap peserta membawa pulang jersey eksklusif, nomor dada, medali penyelesaian, tas perlengkapan, akses ke area serbuk warna, makanan dan minuman penyegar, dokumentasi kegiatan, serta kesempatan memperoleh hadiah hiburan. Namun nilai yang paling sulit diukur justru tidak tersimpan di dalam tas itu.

Ia hadir dalam pengalaman sederhana ketika ribuan orang memilih bergerak bersama tanpa mempersoalkan siapa yang paling cepat. Di usia ke-55, Universitas Adi Buana Surabaya merayakan perjalanan panjangnya bukan melalui kemegahan seremonial, melainkan melalui langkah-langkah yang saling berdampingan, membuktikan bahwa harmoni terkadang lahir dari hal paling sederhana: berjalan bersama menuju garis akhir.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *