Ketika Kesederhanaan Menyingkap Hakikat: Jalan Sunyi Seorang Pemimpin di Hadapan Tuhan

Jombang, Media Pojok Nasional –
Kalimat itu sederhana, nyaris seperti yang lain: jangan pernah meremehkan orang lain karena siapapun bisa jadi apapun. Namun ada kalimat yang tidak sekadar dibaca, ia menunggu untuk dirasakan. Dan ketika dirasakan, ia berubah menjadi cermin yang diam-diam memecah kesombongan paling halus dalam diri manusia.

Di Desa Seketi, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, kalimat itu tidak tinggal sebagai tulisan. Ia menjelma menjadi jalan hidup.

Aries Firmansyah, Kepala Desa Seketi, memikul jabatan yang oleh banyak orang dianggap sebagai titik tinggi. Namun pada dirinya, ketinggian itu seperti tidak menemukan tempat. Ia tidak berdiri di atasnya, ia justru menurunkannya, perlahan, hingga sejajar dengan tanah tempat warganya berpijak.

Di siang hari, ia menunaikan peran formal: mengatur, menandatangani, memastikan urusan desa berjalan. Tetapi di waktu-waktu yang tidak terlihat oleh mata publik, ia hadir dalam bentuk yang lain, lebih sunyi, lebih jujur. Ia menjadi sopir mobil siaga, berjaga 24 jam, mengantar warga yang sakit ke rumah sakit.

Bahkan ketika dihubungi, ia sedang menjenguk seorang yang sakit. Dalam tradisi rohani, menjenguk bukan sekadar kunjungan, ia adalah cara hati belajar melembut. Sebab di hadapan sakit, manusia diingatkan bahwa dirinya rapuh. Dan di hadapan kerapuhan orang lain, ia diuji: masihkah ia menyimpan kesombongan?

Namun jalan sunyi itu tidak berhenti di sana. Di balik seragam yang melekat, Aries tetap menjalankan usaha rongsokan. Ia menyentuh kembali dunia yang sering dianggap rendah, mengumpulkan sisa, memungut yang terbuang, menghidupkan kembali yang tak lagi dianggap.

Rongsokan, bagi mata lahir, hanyalah barang sisa. Tetapi bagi mata batin, ia adalah pelajaran tentang kehidupan: bahwa yang tampak tidak bernilai, sering kali justru menyimpan keberlanjutan. Bahwa yang dibuang manusia, tidak selalu dibuang oleh makna.

Lalu manusia, dengan kesadarannya yang sempit, berani meremehkan sesamanya.

Mengapa? Karena ia melihat dari kulit. Dari jabatan. Dari pakaian. Dari apa yang mudah diukur. Ia lupa bahwa semua itu hanyalah lapisan, yang bisa berubah, yang bisa hilang, yang tidak pernah benar-benar menjadi diri.

Di Desa Seketi, semua itu seperti dibalik secara perlahan. Seorang kepala desa tidak kehilangan wibawanya ketika ia memegang kemudi. Ia justru menemukan kemanusiaannya. Seorang pemimpin tidak menjadi kecil ketika ia kembali ke pekerjaannya yang sederhana. Ia justru menjadi utuh.

Dan mungkin, di situlah letak luka kita sebagai manusia modern: kita terlalu sibuk meninggikan diri, hingga lupa bagaimana caranya merendah tanpa merasa kalah.

Kalimat “jangan pernah meremehkan” pada akhirnya bukan lagi sekadar peringatan. Ia adalah teguran yang lembut, namun dalam, yang jika benar-benar didengar, akan membuat dada terasa sesak.

Apa yang tampak pada sosok itu, duduk bersila, sederhana, tanpa jarak, bukanlah sesuatu yang luar biasa. Namun justru karena kesederhanaannya, ia menjadi sulit untuk disangkal. Ia mengajak siapa pun yang melihat untuk berhenti sejenak, lalu bertanya dalam diam:

sudah sejauh mana kita mengenal diri kita sendiri, sebelum menilai orang lain?
Dan di titik itu, bagi yang jujur pada hatinya, tidak ada lagi yang tersisa selain satu hal,

Menunduk,
Dalam diam yang panjang,
Dengan mata yang perlahan basah.

(hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *