Malang,Media Pojok Nasional – Riuh tepuk tangan di arena GOR Kanjuruhan tidak sekadar menandai berakhirnya pertandingan. Ia menjadi saksi lahirnya satu nama yang tampil nyaris tanpa cela: Wilfiera Refy Devyanka Renata.
Siswi kelas 7D MTsN 1 Bojonegoro itu mencatatkan capaian yang jarang terjadi dalam satu kompetisi. Pada ajang Liga Pelajar Competition 2026 di Malang, 24–26 April 2026, ia tidak hanya menang, ia mendominasi.

Tiga gelar diborong sekaligus. Juara 1 Seni Tunggal Tangan Kosong Putri tingkat pra remaja. Juara 1 Seni Solo Kreatif Putri. Dan, yang paling prestisius, predikat Best of The Best Pesilat Putri, gelar yang biasanya diberikan setelah kurasi ketat atas aspek teknik, ekspresi, hingga konsistensi performa.
Di nomor seni, kemenangan tidak ditentukan oleh kekuatan semata. Ada presisi gerak, kedalaman ekspresi, dan kontrol ritme yang menjadi penentu. Dalam konteks itu, Wilfiera tampil dengan disiplin teknik yang matang, gerakannya bersih, transisinya halus, dan nyaris tanpa kehilangan tempo. Panel juri membaca performanya sebagai paket utuh: teknik, estetika, dan mental bertanding.
Piagam penghargaan yang ia genggam bukan sekadar formalitas. Dua sertifikat utama mencatat dominasinya di kategori seni, sementara satu pengakuan “Best of The Best” menempatkannya di atas para juara lain lintas nomor. Medali emas yang ia kalungkan menjadi simbol legitimasi dari penilaian tersebut.
Menariknya, capaian ini datang dari level pra remaja, fase yang dalam banyak kasus masih diwarnai inkonsistensi atlet. Namun, Wilfiera justru menunjukkan stabilitas yang biasanya baru terlihat pada level lebih tinggi. Ini memberi sinyal bahwa pembinaan di MTsN 1 Bojonegoro tidak berjalan biasa-biasa saja.
Di balik panggung, kompetisi ini mempertemukan ratusan pesilat muda dari berbagai daerah, dengan standar penilaian yang semakin ketat seiring profesionalisasi cabang olahraga pencak silat. Dalam lanskap itu, menyapu tiga gelar bukan sekadar prestasi, melainkan anomali yang layak dicatat.
Wilfiera belum banyak bicara. Senyumnya dalam dokumentasi kemenangan cukup menjelaskan satu hal: kerja panjang telah menemukan panggungnya.
Dan di Kanjuruhan, nama itu, setidaknya untuk saat ini, menutup ruang bagi yang lain.
Red.
