Saat Hati Bergerak ke Timur: Dari Ruang Kelas SMA Negeri 1 Cerme, Kepedulian Menyeberangi Laut ke NTT

GRESIK , Media Pojok Nasional – Ada jarak ribuan kilometer antara Gresik dan Nusa Tenggara Timur. Namun, ketika bencana datang, jarak itu seolah kehilangan maknanya.

Di SMA Negeri 1 Cerme, kepedulian terhadap korban gempa NTT tumbuh dari ruang yang setiap hari dipenuhi aktivitas belajar. Melalui Majelis Perwakilan Kelas (MPK) dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), para siswa menggerakkan penggalangan bantuan selama tujuh hari, 20–26 Agustus 2026.

Bantuan yang dihimpun berupa kebutuhan pokok, seperti beras, gula, minyak dan kebutuhan dasar lainnya. Donasi uang juga dibuka melalui mekanisme tunai maupun non-tunai dengan kanal yang telah disediakan.

Bantuan langsung dapat diserahkan di ruang MPK–OSIS pada hari sekolah sebelum pukul 16.00 WIB. Untuk donasi non-tunai, panitia menyediakan rekening Bank Mandiri, BCA dan DANA, disertai kode QR serta kontak penanggung jawab.

Kepala SMA Negeri 1 Cerme, Indah Nusa Rini, mengatakan gerakan tersebut menjadi bagian dari pendidikan kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan.

“Pendidikan bukan sekadar mencetak kecerdasan di atas kertas, melainkan membentuk hati yang peka terhadap sesama. Ketika saudara kita di NTT sedang tertimpa musibah, kehadiran kita bukan sekadar sebagai pelajar atau warga sekolah, melainkan sebagai manusia yang saling terhubung.” ungkapnya.

Fenomena yang muncul dari gerakan itu justru berada di luar ruang kelas. Pelajaran tentang empati tidak disampaikan melalui ujian atau nilai rapor, melainkan melalui keputusan untuk menyisihkan apa yang dimiliki dan mengarahkannya kepada mereka yang sedang menghadapi bencana.

Di satu sisi, bel sekolah tetap berbunyi dan proses pembelajaran berjalan seperti biasa. Di sisi lain, ruang MPK–OSIS menjadi titik berkumpulnya bantuan untuk sebuah wilayah yang berjarak jauh dari Gresik.

Keterbukaan menjadi bagian dari penggalangan tersebut. Informasi mengenai bentuk bantuan, mekanisme penyerahan, kanal donasi dan kontak penanggung jawab disampaikan sejak awal agar masyarakat mengetahui jalur bantuan yang tersedia.

Gerakan itu memperlihatkan satu hal sederhana: solidaritas tidak selalu lahir dari tempat yang mengalami bencana. Ia dapat tumbuh dari ruang kelas, bergerak melalui tangan para pelajar, lalu menyeberangi batas pulau menuju mereka yang membutuhkan.

Bagi SMA Negeri 1 Cerme, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda organisasi siswa. Ia menjadi pengalaman pendidikan yang berlangsung di luar buku pelajaran, tentang kemanusiaan, kepedulian dan kesediaan untuk hadir ketika orang lain sedang membutuhkan.

Dari Gresik menuju NTT, bantuan itu mungkin bermula dari sesuatu yang kecil. Tetapi ketika banyak tangan bergerak pada saat yang sama, sesuatu yang kecil dapat berubah menjadi harapan.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *