Di Antara Asap Kopi, Tahlil, dan Dentuman Reggae: Ketika GMBI Gresik Bertemu Wong Bodho

GRESIK, Media Pojok Nasional – Senin malam di Sidowungu tidak dipenuhi pidato panjang atau seremoni yang membosankan. Yang terdengar justru lantunan tahlil, obrolan yang mengalir tanpa sekat, aroma kopi yang bercampur dengan udara desa, dan keyakinan bahwa komunikasi jauh lebih berguna daripada saling curiga.

Di Alon-Alon Wong Bodho, tepatnya di Musholla Brandal Loka Jaya, RT 08 RW 02, Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, agenda rutin Ngaji Cangkruk kembali digelar, Senin (4/8/2026). Malam itu, Ketua LSM GMBI Distrik Gresik Muhammad Hudin, S.Pd., hadir bersama jajaran KSM dan anggota GMBI. Mereka disambut langsung oleh pendiri Komunitas Wong Bodho, H. Shukoiri.

Tidak ada meja yang memisahkan siapa aktivis, siapa tokoh masyarakat, dan siapa warga biasa. Semua duduk dalam lingkaran yang sama. Sebab, dalam ruang seperti itu, gagasan sering kali lahir lebih jujur dibandingkan di balik podium yang penuh formalitas.

Acara diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Setelah itu, diskusi mengalir membahas hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat: menjaga persatuan, memperkuat kepedulian sosial, dan membangun kerja sama lintas komunitas agar kehidupan sosial tetap kondusif.

Muhammad Hudin menegaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi, melainkan instrumen untuk membangun komunikasi yang sehat dan memperkuat solidaritas masyarakat.

“Silaturahmi ini menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi, memperkuat sinergi, dan menjaga solidaritas di Kabupaten Gresik. Komunikasi antarlembaga adalah cara menyatukan pemikiran demi membantu masyarakat bawah atau wong cilik,” ujar Muhammad Hudin.

Namun malam belum selesai. Setelah doa dipanjatkan dan percakapan berakhir, sebagian personel LSM GMBI Distrik Gresik bergerak menuju agenda berikutnya. Irama tahlil berganti dentuman musik ketika mereka memberikan dukungan pengamanan pada konser Reggae Vespa yang digelar di wilayah Gresik.

Di lokasi tersebut, relawan GMBI turut menghadirkan ambulans siaga sebagai bentuk pelayanan sosial. Kehadiran mereka diarahkan untuk membantu menjaga keamanan, ketertiban, sekaligus memberikan respons cepat apabila terjadi keadaan darurat selama kegiatan berlangsung.

Rangkaian aktivitas itu menjadi pengantar menjelang agenda sosial berikutnya yang akan dilaksanakan, yakni kegiatan sunatan massal dan santunan bagi anak yatim. Bagi mereka, kegiatan keagamaan, pengamanan masyarakat, hingga aksi sosial bukanlah bagian-bagian yang berdiri sendiri, melainkan satu rangkaian pengabdian yang saling melengkapi.

Di tengah beragam dinamika sosial yang terus bergerak, malam di Sidowungu menyisakan satu kesan sederhana: terkadang sinergi tidak lahir dari ruang rapat yang penuh pendingin udara, melainkan dari tikar sederhana, secangkir kopi, dan kesediaan untuk duduk sejajar mendengarkan satu sama lain.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *