BOJONEGORO, Media Pojok Nasional – Di saat keheningan menyatukan langit dan bumi, Rabu 4 Juni 2026 menjadi hari suci di Desa Kepohkidul, Kecamatan Kedungadem. Di atas tanah persembahan ahli waris almarhum Reso Sentono, pendiri desa, diletakkanlah batu pertama Madrasah Diniyah. Bagi para penempuh jalan hakikat, ini bukan sekadar bangunan, melainkan gerbang tempat jiwa dipanggil pulang menuju keberadaan sejati.
Kepala Desa Samudi memimpin prosesi dengan kerendahan hati seluas alam, didampingi para ulama dan penuntut ilmu hakikat. Ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang saleh.” (HR. Muslim).
“Kita menyusun bata, namun sesungguhnya sedang merajut benang kasih yang tak terputus hingga ke alam baka. Di sini anak‑anak tak sekadar membaca ayat, melainkan diajak menyelami hakikatnya: bahwa segala ilmu adalah pantulan sifat‑Nya, dan segala amal hanyalah jalan menuju keridhaan‑Nya. Amal ini tak akan mati meski raga kembali ke tanah; ia akan terus bersinar bagai cahaya abadi, menjadi bukti bahwa harta sejati adalah yang mendahului kita menghadap Sang Hakikat,” ucapnya bergetar menyentuh kalbu terdalam.
Suasana diselimuti lantunan ayat dan doa yang menyatu dengan bisikan semesta. Madrasah ini kelak akan berdiri tegak bagai mercusuar jalan sufi, mengingatkan setiap jiwa bahwa tujuan tertinggi segala ilmu adalah meleburkan diri dalam cinta dan kebenaran mutlak. (Ayyubi).
