Jakarta, Media Pojok Nasional –
Nama Tomy Winata identik dengan lahirnya kawasan elite Sudirman Central Business District (SCBD), pusat bisnis modern yang kini menjadi simbol kemajuan Jakarta. Padahal, kawasan seluas 45 hektare itu dulunya dikenal kumuh dan belum berkembang.
Lahir di Jakarta, 23 Juli 1958 dengan nama Oe Suat Hong, Tomy tumbuh dalam keterbatasan. Yatim piatu sejak muda dan hanya lulusan SMP, ia merantau ke Kalimantan hanya dengan bekal tiga potong pakaian dan uang Rp30 ribu. Di tanah rantau, ia bekerja sebagai kuli bangunan sebelum perlahan membangun jalan hidupnya sendiri.
Kariernya berkembang saat dipercaya menangani proyek logistik dan pembangunan di lingkungan militer. Momentum besar datang pada 1987 ketika melalui PT Danayasa Arthatama ia mengembangkan kawasan Senayan menjadi SCBD, yang kini dipenuhi gedung perkantoran, hotel mewah, hingga pusat keuangan nasional.
Di sektor perbankan, Tomy bersama Yayasan Kartika Eka Paksi mengambil alih Bank Propelat yang saat itu dalam kondisi sulit. Bank tersebut kemudian berubah menjadi Bank Artha Graha dan berkembang menjadi salah satu kekuatan penting di dunia keuangan.
Hubungan bisnisnya dengan Sugianto Kusuma atau Aguan juga dikenal berlangsung puluhan tahun. Keduanya terhubung dalam sejumlah perusahaan besar seperti PT Jakarta International Hotels & Development Tbk, PT Danayasa Arthatama, Bank Artha Graha Internasional, hingga jaringan usaha Agung Sedayu Group.
Di luar bisnis, Tomy Winata aktif dalam konservasi satwa melalui Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di kawasan Bukit Barisan Selatan. Program konservasi itu disebut berhasil meningkatkan populasi Harimau Sumatera dari sekitar 4 ekor pada 2001 menjadi lebih dari 50 ekor pada 2024.
Perjalanan Tomy Winata menjadi gambaran bagaimana kerja keras, keberanian membaca peluang, dan visi jangka panjang mampu mengubah seorang lulusan SMP yang pernah menjadi kuli bangunan menjadi salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di Indonesia. (Ayyubi).
