Nyadran Dusun Waung 2026: Perpaduan Tradisi, Budaya, dan Doa yang Menghidupkan Persaudaraan

Nganjuk, Media Pojok Nasional –
Dusun Waung, Desa Waung, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, kembali menggelar tradisi tahunan Nyadran 2026 dengan tema besar “Melestarikan Tradisi, Merawat Persaudaraan.” Kegiatan budaya yang dipusatkan di Dusun Waung itu menjadi simbol kuat persatuan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Prosesi Nyadran tahun ini digelar meriah oleh panitia “Gugur Gunung Hambangun Pakerti” dengan menghadirkan berbagai agenda budaya, religi, hingga hiburan rakyat yang berlangsung selama beberapa hari.

Rangkaian acara dimulai pada 15 Mei 2026 sejak pagi hari melalui Kirab Budaya, Siraman, dan Baritan yang dijadwalkan pukul 07.00 WIB hingga selesai. Tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan masyarakat kepada leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur atas kehidupan dan hasil bumi.

Masih di hari yang sama, kemeriahan berlanjut dengan pertunjukan Jaranan mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WIB, disusul hiburan tradisional Tayub pada pukul 13.00 sampai 18.00 WIB.

Menjelang malam, kawasan Dusun Waung dipadati warga yang menikmati Bazar dan Miniatur Sound System mulai pukul 18.00 WIB hingga selesai. Sorotan lampu panggung, dentuman musik, dan keramaian masyarakat menciptakan suasana pesta rakyat yang hidup namun tetap bernuansa kekeluargaan.

Pada 16 Mei 2026, agenda dilanjutkan dengan Cek Sound Miniatur Sound System yang berlangsung mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WIB.

Puncak kemeriahan budaya digelar pada 17 Mei 2026 melalui Karnaval dan Pawai Budaya mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai. Ribuan warga diperkirakan turun ke jalan menyaksikan parade budaya yang menampilkan kreativitas masyarakat serta kekayaan tradisi lokal.

Malam harinya, panggung budaya kembali bergemuruh lewat penampilan Jaranan Haswo Budoyo Reborn (Mubeng) yang menjadi salah satu hiburan paling dinanti masyarakat.

Sementara pada 21 Mei 2026, masyarakat akan dihibur melalui pertunjukan musik MbaleLo Music, sebelum akhirnya seluruh rangkaian Nyadran ditutup dengan nuansa religius pada 29 Mei 2026.

Dalam penutupan tersebut, warga akan mengikuti Pengajian dan Sholawat bersama Gus Arafat, yang diiringi Majelis Sholawat Janur. Ribuan jamaah diperkirakan hadir memadati lokasi untuk bersholawat dan berdoa bersama demi keberkahan Dusun Waung.

Kepala Desa Waung, M. Doni Rudianto, menyampaikan bahwa Nyadran bukan hanya agenda hiburan tahunan, tetapi juga bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat desa.

“Tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus dijaga bersama. Kami ingin generasi muda tetap mengenal budaya, menjaga persaudaraan, dan tidak melupakan akar tradisinya,” ujarnya.

Dengan semangat “Dusun Waung Bersatu, Budaya Maju, Generasi Berakhlak Mulia,” Nyadran 2026 menjadi bukti bahwa tradisi tidak sekadar dikenang, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Di Dusun Waung, budaya bukan hanya dipentaskan.
Budaya dirawat, diwariskan, dan dijaga bersama. (Ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *