Penelusuran Tamatan SMK Jatim 2025: Lulusan Cepat Kerja, Tantangan Kesejahteraan Masih Jadi Sorotan

Surabaya, Media Pojok Nasional – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur merilis Hasil Penelusuran Tamatan SMK Tahun 2025 yang memotret secara nyata kondisi lulusan SMK setelah menyelesaikan pendidikan. Laporan ini menjadi gambaran penting sejauh mana pendidikan vokasi mampu menjawab kebutuhan dunia kerja, kewirausahaan, hingga pendidikan tinggi.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai menegaskan, penelusuran tamatan bukan sekadar pengumpulan data statistik, melainkan ukuran keberhasilan pendidikan vokasi dalam mencetak lulusan yang mampu bersaing di dunia nyata.

“Keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari proses belajar di sekolah, tetapi dari kemampuan lulusan bertahan, beradaptasi, dan berkompetisi di dunia kerja,” ujarnya.

Data penelusuran menunjukkan tingkat partisipasi alumni mencapai 88,36 persen atau sebanyak 195.429 lulusan dari total 221.174 alumni tahun 2024. Tingginya partisipasi ini dinilai memperkuat validitas data sekaligus menunjukkan hubungan yang baik antara sekolah dan para lulusannya.

Hasilnya, sebanyak 55,83 persen lulusan SMK langsung bekerja setelah lulus. Sementara 20,79 persen memilih berwirausaha, 14,84 persen melanjutkan pendidikan tinggi, 7,05 persen menjalani aktivitas lain, dan hanya 1,49 persen yang tercatat belum bekerja.

Tingkat kesesuaian bidang kerja dengan kompetensi yang dipelajari mencapai 69,43 persen. Rata-rata masa tunggu kerja pun relatif singkat, yakni hanya 3,38 bulan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa SMK masih menjadi jalur strategis penyedia tenaga kerja siap pakai.

Namun demikian, laporan tersebut juga menyoroti tantangan serius terkait kesejahteraan lulusan. Hanya 1,83 persen alumni yang memiliki penghasilan di atas Upah Minimum Provinsi (UMP). Fakta ini menjadi perhatian penting dalam upaya peningkatan kualitas pekerjaan dan pendapatan lulusan SMK ke depan.

Sertifikasi kompetensi juga menjadi faktor penting daya saing. Sebanyak 63,57 persen lulusan telah memiliki sertifikat kompetensi yang kini menjadi kebutuhan utama di dunia industri.

Dari sisi sektor penyerapan kerja, lulusan Kurikulum 2013 paling banyak terserap di bidang Energi dan Pertambangan dengan angka 69,99 persen. Sedangkan pada Kurikulum Merdeka, sektor Kemaritiman menjadi penyerap terbesar dengan capaian 65,35 persen.

Sementara itu, jurusan Agribisnis dan Agroteknologi menjadi pilihan utama bagi lulusan yang berwirausaha. Di sisi lain, terdapat jurusan dengan capaian sangat menonjol seperti Desain dan Rancang Bangun Kapal yang mencatat masa tunggu nol bulan dan 30 persen lulusannya berpenghasilan di atas UMP.

Namun tidak semua kompetensi keahlian menunjukkan hasil positif. Jurusan Produksi Film tercatat memiliki angka pengangguran mencapai 48,89 persen. Kondisi ini menjadi sinyal perlunya evaluasi terhadap kesesuaian antara jumlah lulusan dan kebutuhan industri.

Mayoritas lulusan SMK Jawa Timur masih bekerja di dalam provinsi dengan persentase 90,14 persen. Sebanyak 8,90 persen bekerja di luar Jawa Timur, sedangkan hanya 0,96 persen yang berhasil menembus pasar kerja luar negeri.

Melalui hasil penelusuran ini, pendidikan vokasi dinilai semakin menunjukkan peran penting sebagai pencetak tenaga kerja, wirausahawan, dan profesional masa depan. Tantangan berikutnya adalah memperkuat kualitas kompetensi, meningkatkan kesejahteraan lulusan, serta memperluas daya saing hingga tingkat internasional. (ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *