Krisis Sampah di Bangkalan, Masalah Berulang Hingga Kini Solusi Tidak Kunjung Tuntas

Bangkalan, Media Pojok Nasional — Persoalan sampah di Kabupaten Bangkalan kembali menjadi perhatian publik. Krisis pengelolaan sampah yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir dinilai belum menemukan solusi permanen. Mulai dari penolakan warga, keterbatasan Tempat Pembuangan Sementara (TPS), hingga belum adanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) permanen terus menjadi persoalan berulang.

Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Bangkalan harus berpindah-pindah lokasi pembuangan sampah sementara sejak penutupan TPA Buluh beberapa tahun lalu. Sejumlah wilayah seperti Labang, Socah, Kwanyar, Tanjung Bumi, Arosbaya hingga Klampis sempat dijadikan lokasi pembuangan sementara. Namun hampir seluruh rencana itu mendapat penolakan warga karena dikhawatirkan menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan.

Di beberapa kesempatan, warga bahkan melakukan aksi penghadangan terhadap truk pengangkut sampah yang masuk ke wilayah mereka. Penolakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak buruk pengelolaan sampah yang dinilai belum tertata dengan baik.

Selain persoalan lokasi pembuangan, tumpukan sampah juga beberapa kali terlihat di sejumlah titik dalam kota Bangkalan. Kawasan akses Suramadu, pinggir jalan protokol, hingga area sekitar fasilitas umum sempat dipenuhi sampah akibat keterlambatan pengangkutan. Kondisi itu memicu keluhan masyarakat karena menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu kebersihan lingkungan.

Persoalan semakin kompleks saat volume sampah meningkat drastis pada momentum tertentu seperti bulan Ramadan. Aktivitas pasar takjil dan konsumsi masyarakat yang meningkat menyebabkan produksi sampah harian melonjak signifikan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangkalan mencatat volume sampah mengalami kenaikan dibanding hari biasa.

Di sisi lain, DPRD Bangkalan juga sempat menyoroti kebijakan pemerintah daerah yang masih menggunakan sistem sewa lahan untuk lokasi pembuangan sampah sementara. Kebijakan tersebut dinilai belum menjadi solusi jangka panjang karena menghabiskan anggaran rutin setiap tahun tanpa kepastian pembangunan TPA permanen.

Belum lama ini, polemik kembali muncul setelah adanya dugaan aktivitas pembuangan sampah di lahan rencana pembangunan Islamic Science Park di Kecamatan Labang. Sejumlah warga menyampaikan keberatan karena lokasi tersebut dianggap tidak layak dijadikan tempat penumpukan sampah.

Minimnya infrastruktur pendukung juga menjadi kendala tersendiri. Bangkalan disebut masih kekurangan TPS dan fasilitas pengelolaan sampah terpadu. Akibatnya, praktik pembuangan sampah liar masih kerap terjadi di sejumlah wilayah.

Pemerintah daerah sendiri mengaku terus berupaya mencari solusi melalui pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan program TPS3R berbasis pengelolaan masyarakat. Namun hingga kini, persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kabupaten Bangkalan.

Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *