Gresik, Media Pojok Nasional –
Upaya memperbaiki tata kelola sampah kian mendesak di berbagai daerah. Kabupaten Gresik kini menjadi salah satu rujukan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik menerima kunjungan studi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang serta DLH Kabupaten Pacitan untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah terpadu yang telah berjalan. rabu (22/4/2026).
Kunjungan itu difokuskan pada operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), yang selama ini menjadi tulang punggung pengelolaan sampah di Gresik. Rombongan meninjau langsung proses pengolahan, mulai dari pemilahan, pengangkutan, hingga pemanfaatan kembali residu di lapangan.
Pihak DLH pengelola TPST menjelaskan, pendekatan yang diterapkan tidak hanya menitikberatkan pada penanganan akhir, tetapi juga pada integrasi sistem dari hulu ke hilir. “Pengelolaan sampah tidak bisa parsial. Harus menyeluruh, dari sumber hingga pengolahan akhir,” ujar salah satu pengelola di lokasi.
Gresik saat ini mengoperasikan tiga fasilitas TPST, yakni di Ngipik, Belahanrejo, dan Diponggo di Pulau Bawean. Ketiganya dirancang untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan nilai guna sampah melalui proses daur ulang dan pengolahan lanjutan.
Bagi Pemerintah Kabupaten Pacitan, kunjungan ini menjadi langkah awal untuk mengadopsi model serupa. Mereka menilai sistem di Gresik relatif adaptif dan dapat direplikasi, dengan penyesuaian pada kondisi geografis dan kapasitas daerah.
Studi ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman antar daerah, terutama dalam menghadapi tantangan klasik pengelolaan sampah: keterbatasan lahan, rendahnya kesadaran masyarakat, hingga aspek pembiayaan.
Di tengah meningkatnya produksi sampah, model pengelolaan terpadu seperti di Gresik kian relevan. Bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga efisiensi, keberlanjutan, dan nilai ekonomi yang dapat ditarik dari limbah yang selama ini terabaikan. (hambaAllah).
