Makna Hari Raya Ketupat, Anam: Simbol Pengakuan Kesalahan dan Penguatan Silaturahmi

Bangkalan, Media Pojok Nasional – Ketua Perkumpulan Jurnalis Bangkalan, Syaiful Anam, menyampaikan bahwa Hari Raya Ketupat memiliki makna mendalam, tidak hanya sebagai tradisi kuliner, tetapi juga sebagai simbol spiritual dan sosial di tengah masyarakat.
Menurut Anam, perayaan yang digelar sepekan setelah Idul Fitri atau pada hari ke-8 bulan Syawal itu merupakan bagian dari kearifan lokal yang berkembang dari dakwah Sunan Kalijaga.

“Ketupat atau kupat dimaknai sebagai ‘ngaku lepat’, yaitu pengakuan atas kesalahan. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri setelah Ramadan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tradisi kupatan juga menjadi simbol penyempurnaan ibadah, khususnya setelah umat Islam menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Momentum tersebut, lanjutnya, tidak hanya menegaskan nilai spiritual, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.

“Melalui tradisi ini, masyarakat saling berbagi makanan, bersilaturahmi, dan mempererat hubungan antarwarga. Nilai kebersamaan ini sangat penting, terutama di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistik,” kata Anam.

Selain itu, Anam menilai filosofi ketupat yang terbuat dari anyaman janur dengan isi beras putih mencerminkan perjalanan manusia dalam memperbaiki diri. Anyaman yang rumit melambangkan kesalahan, sementara bagian dalam yang bersih menjadi simbol hati yang telah disucikan.

Ia berharap, masyarakat dapat terus melestarikan tradisi Hari Raya Ketupat tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai keagamaan dan sosial.

“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga momentum untuk memperkuat kejujuran dalam mengakui kesalahan, meningkatkan kepedulian sosial, dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya.

red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *