SAIFUL MACAN: TUDUHAN PEMERASAN OLEH OKNUM WARTAWAN ADALAH KEMUNAFIKAN — YANG SEBENARNYA MEMERAS ADALAH PIHAK SEKOLAH SENDIRI

SURABAYA, Media Pojok Nasional Saiful Macan, tokoh jurnalis Jawa Timur yang dikenal tegas dan lantang, kembali menyuarakan kegeramannya. Kali ini ia menyoroti narasi yang sering beredar di media online: tuduhan-tuduhan mengenai dugaan pemerasan yang dilakukan oleh oknum wartawan di lingkungan lembaga pendidikan, khususnya SMA Negeri se-Jawa Timur. Menurutnya, narasi tersebut adalah sebuah kemunafikan yang nyata.

Menurut Saiful Macan, tuduhan yang kerap dilontarkan dan menyasar kalangan wartawan itu justru menutupi fakta sesungguhnya yang terjadi di lapangan. Faktanya, masyarakat dan para wali muridlah yang justru menjadi pihak yang terus-menerus diperas oleh lembaga pendidikan itu sendiri — dengan kedok yang beragam, namun yang paling sering digunakan adalah alasan “sumbangan sukarela” yang ternyata dipaksakan dan ditetapkan dengan nominal yang tidak sedikit.

“Itu semua adalah kemunafikan di dunia pendidikan, khususnya di SMA Negeri yang berada di wilayah Jawa Timur,” tegas Saiful Macan dengan nada penuh penekanan.

Ia kemudian meminta agar Aparat Penegak Hukum (APH) beserta pihak Kepolisian tidak hanya berdiam diri atau sekadar menindak pihak yang dituduh memeras. Sebaliknya, sudah sepatutnya para penegak hukum turun langsung dan melakukan pemeriksaan silang atau pengecekan langsung di dalam lembaga-lembaga tersebut.

Tujuannya sederhana: untuk membuktikan siapa sebenarnya yang menjadi pelaku dan siapa yang menjadi korban. Selama ini, masyarakat dipaksa membayar dengan berbagai alasan yang dibungkus sebagai sumbangan sukarela, padahal nominalnya sudah ditentukan dan tidak boleh tidak dibayar. Wali murid merasa tidak berdaya dan takut anaknya diperlakukan tidak baik jika tidak menyerahkan uang yang diminta.

“Sekali-kali saja, pihak APH atau Kepolisian lakukan pengecekan langsung ke lembaga. Lihatlah: masyarakatlah yang diperas oleh lembaga itu sendiri — dengan kedok sumbangan sukarela yang sebenarnya sudah ditetapkan nominalnya dan dipaksakan.”

Saiful Macan kemudian merangkum kenyataan pahit tersebut dalam satu kalimat yang singkat namun tajam:

“Satu kata: Sekolah SMA Negeri itu..pelaku macak korban,” pernyataan Saiful Macan dengan nada lantang.

Pernyataan ini menegaskan dugaan yang selama ini dirasakan masyarakat luas: bahwa praktik pemerasan yang sesungguhnya justru berpusat dari dalam lembaga pendidikan itu sendiri, yang dilindungi dengan berbagai alasan resmi, sementara tuduhan kepada pihak lain hanyalah cara untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang sebenarnya.

Saiful Macan berharap, seruan ini tidak sekadar menjadi suara yang hilang ditelan angin, melainkan mendorong pihak berwenang untuk segera melakukan pengecekan langsung, membuka transparansi penggunaan dana yang dikumpulkan dari wali murid, dan menindak tegas siapa pun yang terbukti memanfaatkan lembaga pendidikan untuk mengambil keuntungan secara tidak sah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *