Poktan Burneh Akui Mekanisasi Pertanian Lebih Efisien Petani Mulai Tinggalkan Cara Konvensional

Bangkalan, Media Pojok Nasional — Kelompok tani (Poktan) di wilayah Burneh, Kabupaten Bangkalan, mulai merasakan langsung manfaat peralihan cara bertani dari sistem konvensional menuju pertanian modern berbasis alat dan mesin pertanian (alsintan). Meski sempat diiringi keraguan, para petani kini mengakui mekanisasi membawa perubahan signifikan dalam efisiensi tenaga, waktu, dan biaya.

Pengakuan tersebut disampaikan H. Halik, Ketua Poktan di wilayah Burneh, saat menjadi narasumber dalam Podcast Perkumpulan Jurus Bangkalan, ruang diskusi yang mengulas isu pertanian secara dekat, ringan, namun tetap berbobot.

Menurut H. Halik, selama bertahun-tahun petani di Burneh terbiasa mengolah sawah dengan cara manual yang sangat bergantung pada banyak tenaga kerja. Namun kondisi di lapangan kini memaksa petani untuk beradaptasi.

“Kalau satu hektare dikerjakan manual, bisa butuh 20 sampai 25 orang. Sekarang dengan mesin, cukup dua orang saja dan selesai dalam satu hari,” ungkapnya.

Perubahan teknis mulai dirasakan saat Poktan Burneh mencoba menggunakan alsintan, mulai dari traktor pengolah lahan hingga rice transplanter untuk proses tanam padi. Diakui H. Halik, pada awalnya banyak petani belum yakin dengan sistem ini.

“Awalnya petani ragu. Takut biayanya mahal, takut tidak bisa mengoperasikan. Tapi setelah dicoba, ternyata lebih cepat dan lebih ringan,” ujarnya.

Penggunaan rice transplanter dinilai membawa keuntungan tambahan, bukan hanya dari sisi kecepatan tanam, tetapi juga kerapian dan keseragaman jarak tanam. Kondisi tersebut berpengaruh pada pertumbuhan tanaman padi di lapangan.

Yang juga dinilai penting, mekanisasi tanam ini didukung oleh penggunaan bibit padi yang disemai menggunakan tray. Metode ini mengurangi risiko kerusakan bibit yang kerap terjadi pada sistem tanam manual.

“Bibit dari tray lebih kuat, tidak banyak yang rusak, dan adaptasinya cepat setelah ditanam,” jelas H. Halik.

Dari sisi biaya produksi, H. Halik menegaskan bahwa metode mekanisasi justru lebih hemat dibanding cara konvensional.

“Kalau manual itu lebih mahal karena tenaga kerjanya banyak. Kalau pakai mesin, walaupun sistemnya borongan, tetap lebih irit karena cuma dua orang,” katanya.

Ia menambahkan, apabila pengelolaan alsintan dilakukan langsung oleh Gapoktan dan Poktan, biaya dapat ditekan lebih efisien lagi tanpa ketergantungan pada pihak luar.

Meski begitu, tantangan masih ada, terutama terkait kemampuan petani dalam mengoperasikan alsintan. Saat ini, pemahaman masih didominasi oleh pengurus kelompok.

“Yang paham sekarang masih ketua-ketua kelompok. Petani lain masih belajar. Tapi insya Allah satu sampai dua tahun ke depan sudah terbiasa,” tuturnya optimistis.

Menurut H. Halik, pertanian modern justru lebih diminati generasi petani saat ini karena lebih ringan dan efisien.

“Kalau pertanian tidak dibuat modern, petani bisa habis. Padahal tanpa petani, Indonesia tidak mungkin berjalan,” tegasnya.

Ia berharap dukungan alsintan dari Dinas Pertanian terus berlanjut dan diperbanyak, agar semakin banyak petani di Burneh berani meninggalkan cara lama dan beralih ke pertanian modern.

Bagi Poktan Burneh, mekanisasi bukan sekadar pergantian alat, melainkan perubahan pola pikir menuju pertanian yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan.
(Anam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *