
SURABAYA, Media Pojok Nasional – Hingga Kamis (15/10/2026), keluhan warga terkait kondisi lahan bekas kolam pemancingan yang dikenal dengan sebutan “Bozem”, yang terletak di belakang kawasan Sentra Wisata Kuliner (SWK) Babat Jerawat, Jalan Babat Jerawat, Kecamatan Pakal, Surabaya, belum mendapatkan tanggapan apa pun dari pihak pemerintah setempat.
Kondisi memprihatinkan lokasi ini pertama kali disorot awak media pada Jumat (9/10/2026). Namun, lebih dari satu minggu berlalu, belum ada langkah konkret maupun tanggapan resmi dari pihak kelurahan, kecamatan, maupun dinas terkait. Warga menilai pemerintah seakan “tutup mata dan tidak mau peduli,” bahkan sama sekali tidak merespon berbagai laporan yang telah disampaikan warga.

Seorang tokoh masyarakat yang bertempat tinggal tak jauh dari lokasi tersebut, dengan permintaan khusus tidak ingin namanya disebutkan, menyampaikan kekecewaannya kepada awak media:
“Kami sudah menyampaikan keluhan ini sejak lama, bahkan sudah lapor berkali-kali. Tapi sampai hari ini tidak ada tanggapan, tidak ada tindakan. Seakan-akan masalah ini tidak pernah ada. Padahal kami yang tinggal di sini setiap hari menanggung dampaknya langsung.”
“Kami bukan tidak mau bekerjasama, tapi kalau pihak atasannya saja tidak peduli, apa yang bisa kami lakukan? Baunya semakin parah, sampah semakin menumpuk, dan kami yang tinggal di sekitar sini tidak nyaman. Apalagi para pedagang di SWK, usahanya ikut sepi. Kami hanya ingin pemerintah hadir, mendengar, dan bertindak. Sesederhana itu.”
Pantauan langsung di lapangan menunjukkan kondisi semakin memburuk:
-Air kolam berwarna hijau pekat, dipenuhi lumut dan tumbuhan air liar
-Bau tak sedap semakin menyengat saat cuaca panas atau angin bertiup
-Tumpukan sampah rumah tangga, plastik, dan barang bekas menumpuk di pinggir maupun mengapung di permukaan air
-Kawasan terlihat kumuh dan terbengkalai sudah bertahun-tahun
Para pedagang di kawasan SWK juga merasakan dampaknya. Salah satu pedagang yang juga tidak ingin disebut namanya mengaku omzet penjualan turun drastis. “Pengunjung jadi sepi, banyak yang langsung pergi begitu mencium bau tak sedap. Kalau begini terus, usaha kami terancam,” ujarnya dengan nada cemas.

Warga berharap pemerintah tidak hanya menerima laporan di meja, tetapi segera turun langsung ke lapangan dan melakukan tindakan nyata. Beberapa usulan yang disampaikan warga antara lain segera membersihkan sampah dan menormalkan kondisi air, menata ulang lahan agar tidak terbengkalai, serta memanfaatkannya untuk kepentingan umum yang bermanfaat bagi warga sekitar.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Kelurahan Babat Jerawat, Kecamatan Pakal, maupun Dinas terkait mengenai keluhan warga ini. Warga berharap kedepannya ada pihak yang bertanggung jawab dan segera turun tangan menyelesaikan masalah yang sudah berlarut-larut ini.(*)
