Bukan Jabatan atau Harta, Ini yang Diminta Kades Kedungsumber kepada Mbah Yai Hannan

KEDIRI, Media Pojok Nasional
Setinggi apa pun kedudukan manusia di hadapan sesamanya, ia tetap seorang fakir di hadapan Allah. Dalam khazanah tasawuf, kesadaran inilah yang menjadi pintu makrifat. Sebab, penghalang terbesar dalam perjalanan ruhani bukanlah dunia yang dimiliki, melainkan keakuan yang membuat manusia lupa kepada Sang Pemilik segala sesuatu.

Nilai penghambaan itu menjadi bingkai perjalanan Kepala Desa Kedungsumber, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Wahono Yudho, saat sowan kepada KH. Abdul Hannan Ma’shum atau Mbah Yai Hannan, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Fathul ‘Ulum Kwagean, Pare, Kabupaten Kediri, Rabu (14/10/2026).

Dalam perjumpaan tersebut, Wahono bersimpuh dan mencium tangan sang kiai sebagai bentuk takzim kepada ulama.

“Alhamdulillah, keturutan sungkem sang kiai,” ungkapnya.

Kebahagiaan Wahono bertambah ketika memperoleh sajadah yang sebelumnya digunakan Mbah Yai Hannan untuk menunaikan salat Isya berjemaah.

“Sajadah yang dipakai beliau pas salat Isya, pas saf di depan saya,” tuturnya.

Namun, inti kunjungan itu bukan terletak pada sajadah yang diterimanya, melainkan pada maksud kedatangannya.

“Nyuwun Sholawat Bahriyah Kubro. Mboten nyuwun urusan dunia blas kulo,” ujar Wahono.

Ia mengaku datang untuk memohon ijazah amalan Selawat Bahriyah Kubro, bukan untuk meminta sesuatu yang berkaitan dengan jabatan, kekuasaan, ataupun kepentingan duniawi.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menempatkan keikhlasan niat dan penyucian hati sebagai bagian penting perjalanan spiritual. Sementara itu, pemikiran Ibnu Arabi mengenai faqr mengajarkan kesadaran bahwa manusia, betapapun tinggi kedudukannya, tetap bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Tradisi sowan kepada ulama mencerminkan pentingnya adab dan kerendahan hati dalam menuntut ilmu. Namun, dalam tasawuf, penghormatan kepada guru tidak berhenti pada sikap lahiriah. Nilainya harus tercermin dalam akhlak dan tanggung jawab kehidupan sehari-hari.

Bagi seorang pemimpin, kedalaman spiritual bukan diukur dari kedekatannya dengan ulama, melainkan dari kesungguhan menjaga amanah, menegakkan keadilan, dan memenuhi hak masyarakat.

Perjumpaan Wahono dengan Mbah Yai Hannan menjadi gambaran tentang tradisi penghormatan kepada ulama sekaligus pentingnya menjaga orientasi batin di tengah tanggung jawab duniawi.

Sebab, tasawuf tidak mengajarkan manusia meninggalkan dunia, melainkan membebaskan hati dari penghambaan kepadanya. (Ayyubi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *