GRESIK, Media Pojok Nasional – Suasana penuh khidmat menyelimuti rangkaian Hari Jadi Desa Surowiti ke-1447 (579–2026) di Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Rabu (9/9/2026). Dengan mengusung semangat “Arab den Garap; Jawa den Gawa; Adat den Ruwat”, masyarakat Surowiti kembali meneguhkan komitmen menjaga warisan leluhur yang telah berakar sejak ratusan tahun silam.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Surowiti, H. Muhammad Sonhaji, S.Sos, peringatan hari jadi desa tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang refleksi spiritual untuk mengenang sejarah, budaya, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Jejak panjang peradaban Surowiti tergambar melalui berbagai peninggalan bersejarah yang masih terjaga hingga kini. Salah satunya adalah kitab kuno Surowiti, yang menjadi bukti adanya hubungan erat antara wilayah ini dengan tradisi keilmuan Islam masa lampau. Tulisan Arab dan aksara kuno yang menghiasi lembaran kitab tersebut menjadi saksi perjalanan dakwah dan kebudayaan masyarakat terdahulu.
Ungkapan “Surowiti, dalam Kitab kuno” menjadi pengingat bahwa nama dan perjalanan sejarah desa ini telah tercatat dalam warisan literasi masa lalu, bukan hanya melalui cerita yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain kitab kuno, keberadaan peta Belanda yang mencatat wilayah Surowiti juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah desa. Catatan tersebut menggambarkan bahwa Surowiti telah memiliki jejak keberadaan dalam dinamika wilayah sejak masa lampau.
Warisan spiritual lainnya terlihat dari keberadaan bedhug kayu otok, sebuah peninggalan yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat. Tulisan “Bedhug: Kayu Otok, pertama di Pulau Jawa” menjadi simbol kebanggaan warga terhadap salah satu peninggalan yang menghubungkan nilai agama, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat.
Rangkaian kegiatan semakin semarak dengan “Gelaran Siang: Pecinta Wayang Kulit belum berkurang. #alhamdulillah”. Pagelaran wayang kulit tersebut menunjukkan bahwa kecintaan masyarakat terhadap budaya Jawa masih tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Wayang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana penyampaian pesan moral, filosofi kehidupan, serta nilai kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kepala Desa Surowiti, H. Muhammad Sonhaji, S.Sos, mengatakan bahwa Hari Jadi Desa Surowiti merupakan momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga sejarah dan warisan budaya.
“Surowiti memiliki perjalanan panjang yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Warisan leluhur seperti kitab kuno, tradisi, dan peninggalan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi menjadi amanah yang harus kita rawat bersama,” ujar H. Muhammad Sonhaji.
Menurutnya, perkembangan zaman harus tetap berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai sejarah dan kearifan lokal.
“Semoga Hari Jadi Surowiti ke-1447 ini menjadi pengingat bahwa menjaga sejarah berarti menjaga jati diri. Dengan kebersamaan, gotong royong, dan doa para pendahulu, Surowiti dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya,” tambahnya.
Hari jadi Surowiti ke-1447 menjadi refleksi bahwa sebuah desa bukan hanya sekadar wilayah administratif, melainkan ruang yang menyimpan memori kolektif, doa, perjuangan, serta kearifan para leluhur.
Melalui perpaduan nilai Arab den Garap, Jawa den Gawa, dan Adat den Ruwat, Surowiti menunjukkan bahwa tradisi, spiritualitas, dan kemajuan dapat berjalan berdampingan.
Sebuah pesan yang terasa kuat dari perayaan ini, Menjaga sejarah berarti menjaga identitas, merawat budaya berarti menghormati perjalanan para leluhur.
(Ayyubi)
