GRESIK, Media Pojok Nasional – Sebuah proyek pembangunan jalan desa di Dusun Duku, Desa Kebontelukdalam, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, tengah berlangsung dengan sumber pendanaan Dana Desa Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp100 juta. Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi, pekerjaan memiliki volume 140 meter dan dilaksanakan di bawah pengawasan Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Kebontelukdalam.
Dari dokumentasi lapangan yang diterima, pekerjaan yang berlangsung bukan berupa pengaspalan hotmix, melainkan pelaburan aspal (penetrasi ringan) dengan agregat batu pecah. Terlihat pekerja menyapu permukaan agregat sambil menuangkan aspal menggunakan wadah sederhana sebelum dilakukan perataan.

Dalam ilmu konstruksi jalan, metode tersebut lazim dikenal sebagai Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) atau pekerjaan pelaburan agregat menggunakan aspal cair. Mutu jalan yang dihasilkan sangat ditentukan oleh kualitas pondasi jalan, jenis agregat, kadar aspal, serta pemadatan menggunakan alat berat.
Berdasarkan pengamatan visual terhadap foto lapangan, permukaan agregat tampak memiliki ukuran yang relatif tidak seragam. Pada beberapa bagian juga terlihat distribusi agregat belum merata, sementara penyebaran aspal dilakukan secara manual menggunakan alat sederhana. Dari foto yang tersedia juga tidak tampak keberadaan asphalt sprayer, tandem roller, maupun pneumatic tire roller yang lazim digunakan agar ikatan antara agregat dan aspal mencapai kepadatan optimum.
Secara teknis, apabila pekerjaan hanya mengandalkan penyiraman manual tanpa pengendalian takaran aspal yang presisi, risiko yang dapat muncul antara lain bleeding (kelebihan aspal), raveling (agregat mudah terlepas), serta berkurangnya daya ikat lapisan permukaan terhadap beban lalu lintas. Namun, dari foto saja tidak dapat dipastikan apakah seluruh tahapan tersebut benar-benar tidak dilakukan, sehingga penilaian ini terbatas pada kondisi yang tampak dalam dokumentasi.
Mengacu pada praktik konstruksi jalan desa, tahapan pekerjaan ideal meliputi pemeriksaan elevasi badan jalan, pemadatan tanah dasar, pembentukan pondasi agregat apabila diperlukan, penyemprotan aspal dengan volume terukur, penyebaran agregat sesuai gradasi, pemadatan menggunakan roller, hingga pemeriksaan ketebalan dan kepadatan lapisan.
Dari sisi anggaran, nilai proyek sebesar Rp100 juta untuk panjang 140 meter berarti biaya mencapai sekitar Rp714 ribu per meter panjang. Lebar jalan tidak dicantumkan pada papan proyek sehingga biaya per meter persegi tidak dapat dihitung secara pasti.
Sebagai ilustrasi teknis, apabila lebar jalan sekitar 3 meter, maka luas pekerjaan sekitar 420 meter persegi dengan nilai sekitar Rp238 ribu per meter persegi. Jika lebarnya 3,5 meter, luas menjadi 490 meter persegi atau sekitar Rp204 ribu per meter persegi. Sedangkan bila lebar mencapai 4 meter, luas sekitar 560 meter persegi dengan biaya sekitar Rp179 ribu per meter persegi. Nilai tersebut masih berada dalam kisaran yang dapat dijumpai untuk pekerjaan pelaburan aspal sederhana di jalan desa, meskipun kelayakan akhirnya tetap bergantung pada spesifikasi teknis, ketebalan lapisan, kualitas material, dan mutu pelaksanaan di lapangan.
Hingga berita ini disusun, Kepala Desa Kebontelukdalam, Salaman, belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi telah dilakukan, namun yang bersangkutan tidak menjawab sehingga belum diperoleh penjelasan mengenai spesifikasi teknis pekerjaan, lebar jalan yang dibangun, ketebalan lapisan, metode pelaksanaan, maupun rincian penggunaan anggaran. (Ayyubi).
