
Surabaya Media Pojok Nasional – Gelar Pasar Seni Gunawangsa bertajuk “Membuka Cakrawala Nusantara” sukses menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu forum dan satu panggung. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Gunawangsa Tidar Surabaya ini menghadirkan pameran seni, bazar budaya, serta promosi produk kreatif dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk apresiasi terhadap pelaku seni lokal dan UMKM.

Acara ini terselenggara melalui kolaborasi antara Gunawangsa Tidar bersama Gallery Celurit Emas yang dipimpin Herry, Sketsa Indonesia Tunggal Roso di bawah kepemimpinan Josef Husni, komunitas penggiat budaya yang diketuai Agus Cobra, Profesional Terapis Nusantara, serta didukung oleh Gereja Katolik Santo Yakobus, Gereja Katolik Santo Stefanus, WKRI Ranting RM, WKRI Widodaren, WKRI RPD Pogot, dan komunitas puisi dari Kabupaten Sidoarjo.
Kegiatan Pasar Seni Gunawangsa menuju Cakrawala Gerbang Nusantara ini dibuka bersama oleh Romo Eko Budi Susilo, Pr., pemerhati budaya AM Handoko, serta Johanes Subekti selaku Ketua Yayasan Untag Surabaya.
Momentum tersebut menjadi peristiwa penting yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat, mulai dari seniman, budayawan, tokoh agama, akademisi, pelaku UMKM, hingga komunitas sosial dalam suasana kebersamaan dan semangat persatuan.
Menurut Ketua Sketsa Indonesia Tunggal Roso, Josef Husni, pasar seni memiliki peran strategis sebagai instrumen soft power dalam memperkuat identitas budaya bangsa sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif.
“Pasar seni menjadi jembatan antara pelestarian warisan budaya dengan perkembangan zaman. Kehadirannya tidak hanya sebagai ruang pamer karya, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial yang inklusif serta penggerak ekonomi kreatif masyarakat,” ujar Josef Husni.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan Pasar Seni Gunawangsa memiliki sejumlah fungsi strategis, di antaranya sebagai penggerak ekonomi kreatif melalui penyediaan ruang promosi dan transaksi bagi produk kerajinan, seni rupa, karya lukis, serta produk kreatif lainnya yang dihasilkan para pelaku UMKM dan seniman lokal.

Selain itu, pasar seni juga berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya melalui edukasi dan promosi berbagai warisan budaya Nusantara, mulai dari kerajinan tradisional, seni lukis, hingga wastra khas daerah yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.
Lebih jauh, kegiatan ini turut mendukung pembangunan soft power bangsa dengan menghadirkan seni dan budaya sebagai media penguatan kohesi sosial serta pembentukan identitas masyarakat yang modern namun tetap berakar pada nilai-nilai luhur Nusantara.
Yang tidak kalah penting, Pasar Seni Gunawangsa menjadi ruang interaksi sosial lintas agama dan lintas komunitas. Melalui seni dan budaya, berbagai elemen masyarakat dapat saling berjumpa, berdialog, dan membangun semangat toleransi dalam bingkai persatuan Indonesia.
Dengan terselenggaranya Gelar Pasar Seni Gunawangsa “Membuka Cakrawala Nusantara”, diharapkan lahir lebih banyak kolaborasi yang mampu memperkuat ekosistem seni, budaya, dan ekonomi kreatif di Surabaya serta menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam merawat keberagaman dan memperkuat persatuan bangsa melalui jalur kebudayaan.
(Media Pojok Nasional)
