Menapak Jejak Barakah: Rihlah Spiritual Kepala Desa Kedungsumber dalam Menyambung Sanad Kearifan Ulama

Gresik, Media Pojok Nasional –
Di tengah denyut kepemimpinan desa yang menuntut ketegasan sekaligus kejernihan hati, Kepala Desa Kedungsumber, Kecamatan Balongpanggang, Wahono Yudho, menapaki jalan sunyi yang sarat nilai ibadah: rihlah spiritual, sebuah perjalanan ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyambung sanad kebijaksanaan para ulama.

Dalam tradisi Islam Nusantara, kegemaran mengunjungi para ulama tidak sekadar dimaknai sebagai aktivitas sosial, melainkan sebagai ziarah ulama atau rihlah ilmiah dan ruhaniyah, ikhtiar menjemput keberkahan (tabarruk), memperkuat silaturahmi, serta meneguhkan adab di hadapan ilmu. Adapun “sowan”, dalam khazanah Jawa-Islami, merupakan laku tawadhu’, merendahkan diri di hadapan pewaris ilmu para nabi, demi membersihkan hati dan menata niat.

Langkah spiritual Wahono Yudho bermula dari kediaman KH Husein Ilyas, seorang alim yang dikenal luas akan keluasan ilmu, kejernihan pandangan, serta kelembutan tutur yang menyejukkan jiwa. Di ruang sederhana yang penuh keberkahan itu, sowan menjadi lebih dari sekadar pertemuan, ia menjelma majelis hikmah, tempat di mana seorang pemimpin menanggalkan ego, menundukkan hati, dan menyerap nilai kesabaran, keikhlasan, serta kasih sayang kepada sesama. Nasihat beliau seakan mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati adalah amanah ilahiah yang kelak dipertanggungjawabkan, bukan sekadar jabatan yang dipertontonkan.

Perjalanan berlanjut menuju KH Abdul Ghofur, ulama kharismatik yang menegaskan pentingnya akhlakul karimah sebagai fondasi utama dalam memimpin. Di hadapan beliau, rihlah ini menemukan makna yang lebih dalam: bahwa kebijakan tanpa akhlak adalah kehampaan, dan kekuasaan tanpa keteladanan adalah kehilangan arah. Di sinilah nilai-nilai kepemimpinan yang bernafaskan iman semakin diteguhkan.

Tak berhenti pada silaturahmi ke kediaman ulama, Wahono Yudho juga menapaki jejak spiritual para pendahulu dengan berziarah ke Petilasan Syekh Subakir di Gunung Tidar. Dalam pandangan masyarakat Jawa yang sarat nilai religius, tempat ini diyakini sebagai salah satu titik penting penyebaran Islam di tanah Jawa. Ziarah tersebut tidak dimaknai secara berlebihan, melainkan sebagai tadzakkur, mengingat perjuangan para wali dan ulama dalam menyebarkan Islam dengan penuh kesabaran, hikmah, dan pendekatan budaya yang santun.

Rangkaian rihlah ini menegaskan bahwa di tengah hiruk-pikuk birokrasi modern, masih ada pemimpin yang menautkan langkahnya pada dimensi langit. Bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kecakapan administratif, tetapi juga tentang kejernihan hati, ketulusan niat, dan kedekatan dengan nilai-nilai ilahiah.

Di era ketika jabatan kerap dipahami sebagai puncak ambisi duniawi, langkah Wahono Yudho justru menjadi pengingat: bahwa kepemimpinan adalah jalan pengabdian. Jalan yang menuntut keikhlasan, kesederhanaan, serta kesediaan untuk terus belajar dari para ulama, pewaris risalah kenabian.

Lebih dari sekadar hobi, rihlah ini adalah laku spiritual, ikhtiar menjaga keseimbangan antara amanah dunia dan tanggung jawab akhirat. Sebuah perjalanan sunyi yang tidak hanya menapak bumi, tetapi juga mengetuk langit, agar setiap langkah kepemimpinan senantiasa berada dalam naungan ridha Allah SWT. (hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *