Berbagi di Bulan Suci, Bos Tahu Bulat “Dua Azzahra” Mas Teguh Tebar 700 Takjil di Benjeng

Gresik, Media Pojok Nasional – Lanskap Ramadan 1447 H di ruas depan SPBU Benjeng tidak hanya dipenuhi arus lalu lintas, tetapi juga praktik solidaritas yang konkret. Sosok yang dikenal warga sebagai Bos Tahu Bulat Dua Azzahra, Mas Teguh, memanfaatkan momentum jelang berbuka dengan membagikan 700  takjil kepada pengguna jalan.

Di bawah langit mendung dengan aspal yang basah diguyur hujan, deretan sepeda motor dan mobil melambat. Lampu kendaraan memantul di genangan air, sementara beberapa pengendara tetap mengenakan jas hujan. Di tepi jalan, aktivitas berbagi berlangsung takjil diserahkan cepat, berpacu dengan waktu maghrib yang kian dekat.

Paket takjil, berupa makanan ringan dan minuman, didistribusikan secara cuma-cuma, tanpa seleksi, tanpa syarat administratif, menempatkan aksesibilitas sebagai prioritas utama di tengah kondisi jalan yang padat dan licin.

Lebih dari sekadar aksi sesaat, praktik ini memiliki kontinuitas. Warga sekitar menyebut, di luar Ramadan, Mas Teguh kerap melakukan kegiatan sosial serupa dalam skala lebih kecil, mulai dari berbagi makanan hingga keterlibatan dalam aktivitas lingkungan. Artinya, Ramadan bukan titik awal, melainkan akselerator dari pola kepedulian yang telah terbangun.

Dalam kerangka sosial-ekonomi mikro, tindakan ini merepresentasikan redistribusi nilai oleh pelaku usaha kecil. Di tengah tekanan biaya operasional, keputusan menyisihkan sebagian pendapatan untuk kepentingan publik menjadi indikator kuat adanya kesadaran sosial yang tidak bergantung pada kapasitas modal.

Respons masyarakat menegaskan relevansi aksi tersebut. Bagi pengendara yang terjebak ritme perjalanan di tengah hujan, takjil bukan sekadar konsumsi pembuka, melainkan solusi praktis di titik kritis waktu berbuka. Kehadiran Mas Teguh di simpul jalan itu berfungsi sebagai intervensi langsung terhadap kebutuhan situasional.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa Ramadan tidak berhenti pada dimensi ritual, tetapi bergerak ke ranah praksis sosial. Di Benjeng, pesan itu terartikulasikan secara presisi: empati yang dijalankan secara konsisten memiliki dampak lebih luas dibanding sekadar simbolik, memberi, bahkan dalam kondisi yang tidak ideal sekalipun.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *