Ungkapan Terima Kasih Prabu Den Bagus Pada SMAN 1 Arosbaya Bangkalan

Bangkalan, Media Pojok Nasional – Di tengah dinamika dunia pendidikan yang sering kali dipenuhi angka, target nilai, dan persaingan prestasi, ada sebuah kisah sederhana yang justru menyentuh hati. Kisah ini datang dari seorang siswa bernama Prabu Den Bagus. Kepindahannya dari SMA Negeri 1 Arosbaya ke SMA Negeri 1 Bangkalan bukan hanya soal pindah kelas atau sekolah, tetapi tentang bagaimana ia meninggalkan jejak akhlak dan rasa hormat.

Prabu Den Bagus tidak sekadar mengemasi buku pelajaran dan berpindah ruang kelas. Ia membawa sesuatu yang lebih penting: kesadaran untuk berterima kasih, memohon maaf, dan mendoakan kebaikan bagi guru serta sekolah yang pernah membesarkannya. Ucapannya kepada guru-guru SMA Negeri 1 Arosbaya bukanlah formalitas, melainkan pengakuan tulus atas jasa mereka yang telah menanamkan ilmu dan budi selama dua tahun ia menempuh pendidikan di sana.

Dalam dunia yang serba cepat, di mana generasi muda sering terjebak pada ego dan gengsi, sikap Prabu adalah oase. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak semata-mata diukur dari indeks prestasi atau nilai rapor, tetapi juga dari bagaimana seorang siswa mengekspresikan rasa syukur kepada mereka yang telah mendidik.

Ucapan terima kasih bukanlah kata-kata sederhana. Ia adalah cermin karakter, tanda kedewasaan, dan bukti bahwa pendidikan sejati telah menyentuh ranah hati. Jika hari ini banyak siswa abai untuk menghormati guru, maka Prabu menunjukkan sebaliknya: guru adalah pilar yang harus dihargai, bahkan setelah kita melangkah pergi.

Lebih dari itu, Prabu juga menyampaikan permohonan maaf kepada para guru atas segala kekhilafan. Inilah pelajaran berharga yang kerap terlewat dalam dunia pendidikan. Permintaan maaf menandakan keberanian untuk mengakui kekurangan diri. Dalam konteks pendidikan, ia adalah jembatan untuk menjaga silaturahmi. Karena sejatinya, ikatan antara murid dan guru tidak pernah putus, sekalipun lembar absen sudah berbeda.

Ucapan hormat kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Bangkalan, Ibu Pingki, juga menunjukkan kesadaran lain yang patut dicatat. Bahwa proses pendidikan tidak berjalan hanya di dalam ruang kelas. Ada tangan-tangan kebijakan, arahan, dan dukungan yang membuat roda pendidikan bisa berputar. Mengingat dan menghormati peran itu adalah bentuk kecerdasan emosional yang semakin jarang ditemui di kalangan siswa.

Apa yang dilakukan Prabu adalah bukti nyata bahwa pendidikan karakter bukan jargon. Ia hadir dalam sikap, tutur kata, dan penghormatan kepada orang lain. Guru SMA Negeri 1 Arosbaya pantas berbangga, karena dua tahun mendidik Prabu ternyata membuahkan sikap yang berkarakter. Sekolah tidak hanya berhasil mencetak murid yang siap melanjutkan pendidikan di tempat baru, tetapi juga menumbuhkan pribadi yang peka, rendah hati, dan penuh rasa syukur.

Dalam skala luas, apa yang dilakukan Prabu mungkin terlihat kecil. Hanya ucapan terima kasih, permohonan maaf, dan doa. Namun, justru dari hal-hal kecil seperti inilah wajah pendidikan yang humanis bisa terbentuk. Jika setiap siswa mencontoh Prabu, maka dunia pendidikan kita akan lebih hangat, penuh rasa hormat, dan tidak kehilangan ruh kebersamaan.

Prabu Den Bagus telah menunjukkan kepada kita bahwa berpindah sekolah bukan berarti memutus silaturahmi. Justru di sanalah nilai luhur pendidikan diuji: mampukah seorang murid menjaga rasa hormat kepada guru dan pemimpin pendidikannya. Dan jawaban Prabu, jelas: mampu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *