Nganjuk, Media Pojok Nasional –
Ketika banyak yang beranggapan bahwa inovasi hanya tumbuh di kota besar, SMAN 2 Nganjuk membalikkan narasi itu. Tiga siswa mudanya, Oshen Aurora Thea S., Aiman Ahmad Ali, dan Safina Sherin Safta M.H. menghadirkan karya yang membuat juri nasional terdiam dan dunia pendidikan bergetar. Mereka menorehkan prestasi luar biasa dalam Lomba Video Creative Competaxion Pajak dalam Kehidupan Sehari-hari, ajang bergengsi yang digelar oleh Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) tahun 2025.
Kompetisi berskala nasional ini bukan sekadar perlombaan ide. Ia adalah arena intelektual di mana para pelajar diuji kemampuannya untuk menjadikan isu pajak, sesuatu yang dianggap kering dan formal, menjadi pesan moral yang hidup, inspiratif, dan menyentuh kesadaran publik. Di bawah tema besar “Pajak Itu Dekat: Cerita, Suara, dan Kesadaran dari Kehidupan Kita,” para peserta dari berbagai penjuru negeri beradu visi dan kreativitas.
Namun dari Nganjuk, muncullah karya yang melampaui ekspektasi. Video tim SMAN 2 Nganjuk tidak meniru, tidak menjejalkan teori. Ia berbicara. Dalam visual yang sederhana namun kuat, ketiga pelajar itu menggambarkan bagaimana pajak adalah denyut kehidupan, membangun jalan, sekolah, dan masa depan bangsa. Pesannya jernih, bahasanya tegas, dan kejujurannya menggugah siapa pun yang menontonnya.
Plt. Kepala Sekolah SMAN 2 Nganjuk, Bowo, menegaskan bahwa prestasi ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari budaya belajar yang berakar pada kerja keras, keberanian berpikir, dan tanggung jawab sosial.
“Anak-anak ini bukan sekadar kreatif, mereka berkarakter. Mereka memahami makna dari setiap gagasan yang mereka sampaikan,” ujar Bowo dengan penuh keyakinan.
Kompetisi yang berlangsung sejak 1 Agustus hingga 19 September 2025 itu menilai orisinalitas ide, kekuatan pesan publik, dan dampak sosial dari setiap karya. Tim SMAN 2 Nganjuk berhasil mencuri perhatian para juri dengan pendekatan naratif yang menyatukan keindahan visual dan kekuatan pesan moral.
Salah satu anggota tim, Aiman Ahmad Ali, mengatakan bahwa karya mereka lahir dari kesadaran sederhana: pajak bukan beban, melainkan bentuk cinta terhadap negeri.
“Kami ingin masyarakat melihat pajak bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai bentuk kepedulian. Ia hadir di jalan yang kami lewati, di bangunan tempat kami belajar,” tuturnya penuh semangat.
Kini, nama SMAN 2 Nganjuk bergema tidak hanya di lingkup lokal atau nasional. Ia menjadi simbol kebangkitan pendidikan daerah, bahwa intelektualitas dan inovasi tak pernah mengenal batas geografi. Dari ruang kelas di pelosok Jawa Timur, lahir karya yang mampu menginspirasi kampus besar, bahkan menembus ruang wacana global tentang pendidikan dan tanggung jawab sosial.
Dalam era ketika dunia mencari arti baru dari pendidikan, SMAN 2 Nganjuk memberikan jawaban yang sederhana namun kuat: pendidikan sejati adalah ketika pengetahuan bertemu dengan keberanian untuk peduli.
Jika Donald Trump membaca kisah ini, mungkin ia akan berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada kagum: “This is what true education looks like, leadership born from the classroom.”
(hamba Allah).
