Lamongan, Media Pojok Nasional –
Di tengah dinamika kebijakan dan kompleksitas tata kelola pendidikan, sebuah unggahan sederhana di media sosial justru memancarkan kedalaman makna. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Lamongan, Dr. Budi Sulistyo, S.Pd., M.Si., membagikan pesan reflektif yang sarat nuansa spiritual:
“Sebelum melangitkan sebuah harapan pada Allah, buatlah tiga ruang dalam dirimu.
Ruang pertama, simpanlah rasa sabar ketika kamu menunggunya.
Ruang kedua, simpanlah rasa syukur ketika kamu mendapatkannya.
Ruang ketiga, simpanlah rasa ikhlas ketika Allah tidak memberinya.”
Alhamdulillah…
Unggahan ini bukan sekadar motivasi personal. Ia adalah representasi nilai-nilai tasawuf yang hidup dalam kesadaran seorang pemimpin pendidikan.
Dalam tradisi tasawuf, sabar merupakan maqām (tingkatan spiritual) awal yang menguatkan jiwa. Sabar bukan sikap pasif, melainkan kesadaran aktif bahwa setiap proses memiliki ketentuan Ilahi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)
Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, sabar berarti konsisten menjaga integritas meski hasil belum tampak. Ia adalah energi batin yang meneguhkan arah kebijakan tanpa tergesa oleh ambisi.
Syukur adalah maqām lanjutan yang menyinari perjalanan ruhani. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim: 7:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambahkan (nikmat) kepadamu.”
Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan kesadaran bahwa capaian adalah amanah. Dalam kepemimpinan modern, syukur melahirkan kerendahan hati, sebuah kualitas langka di tengah budaya kompetisi dan pencitraan.
Seorang pemimpin yang bersyukur akan memandang keberhasilan sebagai hasil kolaborasi, bukan klaim pribadi.
Ikhlas adalah inti terdalam perjalanan tasawuf. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ikhlas adalah menerima keputusan Allah, baik sesuai harapan maupun tidak. Di titik inilah seorang hamba memasuki dimensi makrifat, kesadaran bahwa di balik setiap peristiwa ada hikmah yang melampaui kalkulasi manusia.
Dalam tata kelola pendidikan, ikhlas menghadirkan ketenangan dalam mengambil keputusan strategis, sekalipun keputusan itu tidak selalu populer.
Hakikat, Tarekat, Makrifat dalam Kepemimpinan, Tiga “ruang” yang disampaikan dalam unggahan tersebut sejatinya mencerminkan perjalanan spiritual yang utuh:
- Hakikat: Menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah.
- Tarekat: Menempuh proses dengan sabar dan syukur.
- Makrifat: Menerima dengan ikhlas setiap ketentuan-Nya.
Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa spiritualitas bukan antitesis profesionalisme. Justru, kedalaman batin memperkuat ketegasan moral dalam memimpin.
Unggahan yang ditutup dengan kata “Alhamdulillah…” menghadirkan pesan kepasrahan yang dewasa. Publik pendidikan tentu menaruh simpati pada pemimpin yang tidak hanya berpikir administratif, tetapi juga kontemplatif.
Di tengah tuntutan global terhadap kepemimpinan berbasis nilai (values-based leadership), pesan sabar, syukur, dan ikhlas menjadi fondasi etika universal yang relevan lintas zaman.
Story tersebut mungkin hanya tampil 24 jam. Namun maknanya melampaui batas waktu, menjadi refleksi bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya dibangun oleh kewenangan struktural, melainkan oleh kejernihan spiritual.
Alhamdulillah.
(hambaAllah).
