Opini: “Di Mana Bumi Dipijak, Tetap Semangat Bela Negara”

Surabaya, Media Pojok Nasional – Peribahasa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” mengajarkan kita untuk menghormati nilai, norma, dan aturan di tempat kita berada. Dalam konteks kebangsaan, pepatah ini memiliki makna yang lebih dalam: di mana pun kita berada—baik di tanah air maupun di luar negeri—semangat bela negara harus tetap menyala di dalam dada.

Bela negara bukan semata-mata mengangkat senjata di medan perang. Di era modern, bela negara hadir dalam berbagai bentuk: menjaga persatuan, menghormati keberagaman, bekerja dengan jujur, membayar pajak, hingga berprestasi di bidang masing-masing. Seorang pelajar yang tekun belajar, seorang tenaga kesehatan yang melayani dengan sepenuh hati, atau seorang pekerja yang berintegritas, semuanya adalah wujud nyata bela negara.

Ketika kita berpijak di tanah Indonesia, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai Pancasila dan keutuhan NKRI. Namun, ketika kita berada di luar negeri sekalipun, identitas sebagai bangsa Indonesia tetap melekat. Sikap, tutur kata, dan perilaku kita mencerminkan martabat bangsa. Dengan menjunjung etika dan menunjukkan prestasi, kita turut mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Semangat bela negara juga berarti berani melawan sikap apatis, intoleransi, dan hoaks yang dapat memecah belah persatuan. Di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi, generasi muda dituntut untuk cerdas, kritis, dan tetap berakar pada nilai kebangsaan. Nasionalisme bukan berarti menutup diri dari dunia luar, melainkan mencintai tanah air sambil tetap terbuka terhadap kemajuan.

Pada akhirnya, di mana pun bumi dipijak, semangat bela negara adalah kompas moral yang menuntun kita. Ia bukan sekadar slogan, tetapi komitmen nyata untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Dengan semangat itu, Indonesiav akan terus berdiori kokoh—berdaulat, adil, dan bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *