Gresik,Media Pojok Nasional – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sejak awal berdirinya menegaskan diri bukan sekadar perguruan pencak silat, melainkan jalan pendidikan manusia seutuhnya. Nilai tersebut tercermin dalam keseharian Dwi Oktavianto yang akrab dengan sapaan Mas Vian, pelatih sekaligus Pengurus Ranting PSHT Benjeng, yang menanamkan ajaran PSHT bahkan dari lingkup paling mendasar: keluarga.
Melalui dokumentasi aktivitas anak pertamanya, Mas Vian memperlihatkan praktik nyata nilai luhur PSHT Terate, yakni Persaudaraan, Budi Pekerti Luhur, Disiplin, Tanggung Jawab, dan Pengendalian Diri. Nilai-nilai ini tidak diajarkan melalui paksaan, melainkan melalui keteladanan, pendampingan, dan kesabaran, selaras dengan falsafah PSHT “ngolah rogo, ngolah roso, ngolah cipta”.

Dalam ajaran PSHT, kekuatan sejati tidak diukur dari fisik semata, tetapi dari kemampuan seseorang mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menjaga martabat persaudaraan. Pendekatan ini sejalan dengan kajian psikologi perkembangan anak yang menekankan bahwa pembentukan karakter paling efektif terjadi melalui lingkungan yang aman, konsisten, dan penuh teladan positif.
Mas Vian mempraktikkan prinsip “setia hati” secara utuh: setia pada nilai, setia pada tanggung jawab, dan setia pada proses. Di luar perannya sebagai pelatih ranting, ia menempatkan keluarga sebagai madrasah pertama dalam menanamkan nilai PSHT yang beradab dan berkepribadian luhur.
Nilai persaudaraan yang diajarkan PSHT juga tampak dari dukungan penuh keluarga terhadap tumbuh kembang anak. Dalam konteks ini, PSHT tidak berdiri sebagai organisasi eksklusif, melainkan sebagai komunitas moral yang menjunjung tinggi kemanusiaan, etika sosial, dan keseimbangan hidup.
Di tengah tantangan zaman yang kerap memisahkan pendidikan fisik dari pendidikan karakter, keteladanan Mas Vian menjadi pengingat bahwa ajaran PSHT Terate tetap relevan dan kontekstual. Bahwa mencetak generasi kuat bukan hanya tentang teknik dan prestasi, melainkan tentang watak, adab, dan tanggung jawab sosial.
Melalui figur-figur seperti Mas Vian, PSHT Ranting Benjeng menunjukkan bahwa ajaran Setia Hati tidak berhenti di padepokan atau gelanggang latihan, tetapi hidup dalam keseharian, tumbuh dalam keluarga, dan diwariskan secara beradab kepada generasi penerus.
Red.
